Mengenal Sifat Shalat Nabi

 


Agar shalat kita mengikuti sifat shalat nabi, maka imam-imam ahlusunnah (4 Madzab) telah menyusun kitab-kitab fiqh shalat, dalam kitab2 tersebut telah dibahas dengan lengkap mengenai rukun shalat(juga rukun tiap-tiap rukun shalat tersebut), syarat syahnya shalat , sunah-sunah dalam shalat dsb.. dengan dalil-dalil dan hujjah yg shahih. Fiqh Shalat inilah yg dipegang dan dipelihara oleh ulama-ulama ahlusunnah dan umat muslim diseluruh dunia.
Kebanyakan muslimin sekarang tidak tahu mana yang rukun wajib dalam shalat dan mana yang sunah (tidak wajib) dalam shalat. Musuh-musuh islam dengan berkedok islam/salafy/ahlusunnah telah menyesatkan umat ini dengan membuat cara-cara shalat dengan membuat dusta dengan dalil-dalil yang tidak lengkap. Diantara buku-buku yang menyesatkan ini adalah buku dengn judul “sifat shalat nabi” yang ditulis oleh syaikh nashiruddin Albany, seorang syaikh dari sekte wahabi yang sering mengaku-ngaku dengan nama salafy/darul hadits dsb.
Adapun “rukun shalat” menurut imam ahlusunnah akan dijelaskan secara singkat dibawah ini :

BONGKAR SATU PERSATU KESESATAN SHALAT WAHABY/ALBANY

BONGKAR SATU PERSATU KESESATAN SHALAT WAHABY/ALBANY
Hadirkan bukti scan kitab ulama ahlusunnah, bukan hanya ilmiah tapi bukti dan fakta akan kesesatan wahaby/salafy!!
wahaby terlalu sering memalsu pendapat-pendapat ulama ahlusunnah dalam rujukan -rujukan pada tulisan-tulisan mereka…..sekarang kita bongkar semua rujukan palsu tersebut!!!
lanjutan dari “sifat shalat Nabi vs sifat shalat albany/wahaby”
lihat artikel saya : http://salafytobat.wordpress.com/2008/07/18/rukun-shalat/
wahai wahaby!!     Rujukan palsu kalian anggap ilmiah???
wahaby badwy cobalah tengok kitab ulama ahlusunnah yg asli!!!
1. DUA TANGAN DIBAWAH DADA BUKAN DIATAS DADA!! 

 

















CIRI-CIRI PAHAM SALAFIYYAH AL-WAHHABIYYAH



 CIRI-CIRI PAHAM SALAFIYYAH AL-WAHHABIYYAH

AQIDAH

1.      Membagi Tauhid menjadi 3 bagian yaitu:
a.       Tauhid Rububiyyah: Dengan tauhid ini, mereka mengatakan bahwa kaum
musyrik Mekah dan orang-orang kafir juga mempunyai tauhid.
b.      Tauhid Uluhiyyah: Dengan tauhid ini, mereka menafikan tauhid umat Islam
yang bertawassul, beristigathah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara
tersebut diterima oleh jumhur ulama Islam khasnya ulama empat Imam madzhab.
c.       Tauhid Asma’ dan Sifat: Tauhid versi mereka ini bisa menjerumuskan umat islam
ke lembah tashbih dan tajsim kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala seperti:

Pengaruh KitabTahrif Terhadap Khazanah Keilmuan Dan Ancamannya Terhadap Generasi Aswaja




I.               Pendahuluan
Salah satu karakter yang menghiasi dunia keilmuan dalam Islam adalah bahwa para ulama senantiasa menjaga amanah ilmiyyah.[2] Ketika para ulama berbicara atau menulis karya-karya, akan ditegaskan bahwa suatu perkataan atau pendapat tertentu adalah orisinil dari pribadi seorang ulama tersebut ataukah itu adalah kutipan dari ulama yang lain. Ketika mengutip pendapat orang lain maka akan disebutkan siapa pemilik pendapat tersebut dengan diawali dengan (قال فلان) dan dikutip dengan penuh amanah dan teliti (diqqah)setelah diteliti kebenaran penisbatan dan naskah (Shihhah an-Nuskhah) karya-karya para ulama yang bersangkutan[3]dan diakhiri dengan kata (انتهى) atau disingkat (ا.هــــ.).Jika kutipan tersebut lengkap akan dijelaskan dengan kata (انتهى برمّته) atau semacamnya, jika diringkas dijelaskan dengan kata (انتهى باختصار), jika kutipan tersebut persis seperti lafazhnya dikatakan (انتهى بلفظه) atau di awal dikatakan (قال ما نصّه), jika dengan sedikit menambah, mengurangi atau merubahnya dikatakan (انتهى بتصرّف), jika dikutip tidak persis dengan lafazhnya sama sekali maka dikatakan (انتهى بمعناه) atau di awal dikatakan (قال ما معناه). Jika itu adalah komentar, pendapat atau tambahan dari pengarang maka akan ditegaskan setelah mengakhiri kutipan dengan kata (قلت) atau (أقول) dan memulai kalimat selanjutnya ataupun tanpa itu selama tidak terjadi kerancuan.Demikian seterusnya kaedah-kaedah yang sudah disepakati oleh para ulama sebagai bentuk amanah ilmiyyah.
Orang yang mengabaikan amanah ‘ilmiyyah dengan berdusta dalam mengutip pendapat ulama lain atau merubah-rubah dan menyelewengkannya akan jatuh dari statusnya sebagai orang yang adil biasa, apalagi dari status ulama, ulama besar atau imam mujtahid, sehingga tidak diterima kutipan-kutipan, penjelasan-penjelasan dan pendapat-pendapatnya. Syeikh Mushthafa Abu Sayf al Hamami setelah menjelaskan tiga kebohongan beruntun yang dilakukan oleh Ibnu al Qayyim menyatakan:[4]
"وَهِيَ جَرَائِمُ تَكْفِي وَاحِدَةٌ مِنْهَا فَقَطْ لأَن تُسْقِطَ الرَّجُلَ مِنْ عِدَادِ العُدُوْلِ العَادِيِّيْنَ لاَ أَقُوْلُ مِنْ عِدَادِ العُلَمَاءِ أَوْ أَكَابِرِ العُلَمَاءِ أَو الأَئِمَّةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ. وَيَعْظُمُ الأَمْرُ إِذَا عَلِمْنَا أَنَّ الْـخِيَانَاتِ الثَّلاَثَ فِـيْ نَقْلٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ مِـمَّا يُرْغِمُ النَّاظِرَ فِـيْ كَلاَمِ هذَا الرَّجُلِ عَلَى أَنْ لاَ يَثِقَ بِنَقْلٍ وَاحِدٍ يَنْقُلُهُ، فَإِنَّهُ لاَ فَرْقَ بَيْنَ نَقْلٍ وَنَقْلٍ، فَإِذَا ثَبَتَتْ خِيَانَتُهُ فِـيْ هذَا جَازَ أَنْ تَثْبُتَ فِـيْ غَيْرِهِ وَغَيْرِهِ".
Ini adalah kejahatan-kejahatan, satu kejahatan saja dari tiga kejahatan tersebut cukup untuk menjatuhkan Ibnu al Qayyim dari kelompok orang-orang yang adil biasa, saya tidak mengatakan dari kelompok para ulama atau para ulama besar atau para imam mujtahid. Ini semakin parah, jika kita tahu bahwa tiga khiyanat tersebut dalam satu kutipan, ini memaksa orang yang membaca perkataan Ibnu al Qayyim untuk tidak mempercayai satu kutipan-pun yang ia lakukan, karena tidak ada bedanya antara satu kutipan dengan yang lain, jika terbukti khiyanatnya dalam kutipan ini maka bisa saja khiyanat itu terjadi dalam kutipan-kutipannya yang lain”.
Pengarang kitab Kifayah al Akhyar; Al Imam Taqiyyuddin al Hushni dalam buku bantahannya terhadap Ibnu Taimiyah “Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrada Wa Nasaba Dzalika Ila as-Sayyid al Jalil al Imam Ahmadsetelah menyingkap kebohongan-kebohongan Ibnu Taimiyah memperingatkan:[5]
وَإِذَا عَرَفْتَ هذَا فَيَنْبَغِي أَيُّهَا الْمُؤْمِنُ الْخَالِي مِنَ البِدْعَةِ وَالْهَوَى أَنْ لاَ تُقَلِّدَهُ فِيْمَا يَنْقُلُهُ وَلاَ فِيْمَا يَقُوْلُهُ، بَلْ تَفَحَّصْ عَنْ ذلِكَ وَاسْأَلْ غَيْرَ أَتْبَاعِهِ مِمَّنْ لَهُ رُتْبَةٌ فِي العُلُوْمِ وَإِلاَّ هَلَكْتَ كَمَا هَلَكَ هُوَ وَأَتْبَاعُهُ.
Jika anda ketahui ini, maka selayaknya bagi anda -Wahai saudaraku mukmin yang bersih dari bid’ah dan akidah yang menyimpang- tidak mengikuti Ibnu Taimiyah dalam semua kutipannya dan dalam semua perkataannya, sebaliknya telitilah tentang kutipan dan perkataannya dan bertanyalah kepada selain pengikutnya; para ulama yang memiliki tingkatan tinggi dalam semua disiplin ilmu, jika tidak begitu engkau akan celaka seperti Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya”.[6]

Sample Footer