I.
Pendahuluan
Salah
satu karakter yang menghiasi dunia keilmuan dalam Islam adalah bahwa para ulama
senantiasa menjaga amanah ilmiyyah.[2] Ketika
para ulama berbicara atau menulis karya-karya, akan ditegaskan bahwa suatu
perkataan atau pendapat tertentu adalah orisinil dari pribadi seorang ulama
tersebut ataukah itu adalah kutipan dari ulama yang lain. Ketika mengutip
pendapat orang lain maka akan disebutkan siapa pemilik pendapat tersebut dengan
diawali dengan (قال فلان) dan
dikutip dengan penuh amanah dan teliti (diqqah)setelah diteliti
kebenaran penisbatan dan naskah (Shihhah an-Nuskhah) karya-karya para
ulama yang bersangkutan[3]dan diakhiri
dengan kata (انتهى) atau disingkat (ا.هــــ.).Jika
kutipan tersebut lengkap akan dijelaskan dengan kata (انتهى
برمّته) atau semacamnya, jika diringkas dijelaskan dengan kata (انتهى باختصار), jika kutipan tersebut persis seperti lafazhnya
dikatakan (انتهى بلفظه) atau di awal dikatakan (قال
ما نصّه), jika dengan sedikit menambah, mengurangi atau merubahnya
dikatakan (انتهى بتصرّف), jika dikutip tidak persis dengan lafazhnya sama
sekali maka dikatakan (انتهى بمعناه) atau
di awal dikatakan (قال ما معناه). Jika
itu adalah komentar, pendapat atau tambahan dari pengarang maka akan ditegaskan
setelah mengakhiri kutipan dengan kata (قلت) atau (أقول) dan
memulai kalimat selanjutnya ataupun tanpa itu selama tidak terjadi kerancuan.Demikian
seterusnya kaedah-kaedah yang sudah disepakati oleh para ulama sebagai bentuk
amanah ilmiyyah.
Orang
yang mengabaikan amanah ‘ilmiyyah dengan berdusta dalam mengutip pendapat ulama
lain atau merubah-rubah dan menyelewengkannya akan jatuh dari statusnya sebagai
orang yang adil biasa, apalagi dari status ulama, ulama besar atau imam
mujtahid, sehingga tidak diterima kutipan-kutipan, penjelasan-penjelasan dan
pendapat-pendapatnya. Syeikh Mushthafa Abu Sayf al Hamami setelah menjelaskan
tiga kebohongan beruntun yang dilakukan oleh Ibnu al Qayyim menyatakan:[4]
"وَهِيَ
جَرَائِمُ تَكْفِي وَاحِدَةٌ مِنْهَا فَقَطْ لأَن تُسْقِطَ الرَّجُلَ مِنْ عِدَادِ
العُدُوْلِ العَادِيِّيْنَ لاَ أَقُوْلُ مِنْ عِدَادِ العُلَمَاءِ أَوْ أَكَابِرِ
العُلَمَاءِ أَو الأَئِمَّةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ. وَيَعْظُمُ الأَمْرُ إِذَا
عَلِمْنَا أَنَّ الْـخِيَانَاتِ الثَّلاَثَ فِـيْ نَقْلٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ مِـمَّا
يُرْغِمُ النَّاظِرَ فِـيْ كَلاَمِ هذَا الرَّجُلِ عَلَى أَنْ لاَ يَثِقَ بِنَقْلٍ
وَاحِدٍ يَنْقُلُهُ، فَإِنَّهُ لاَ فَرْقَ بَيْنَ نَقْلٍ وَنَقْلٍ، فَإِذَا
ثَبَتَتْ خِيَانَتُهُ فِـيْ هذَا جَازَ أَنْ تَثْبُتَ فِـيْ غَيْرِهِ
وَغَيْرِهِ".
“Ini adalah kejahatan-kejahatan, satu kejahatan saja dari
tiga kejahatan tersebut cukup untuk menjatuhkan Ibnu al Qayyim dari kelompok
orang-orang yang adil biasa, saya tidak mengatakan dari kelompok para ulama
atau para ulama besar atau para imam mujtahid. Ini semakin parah, jika kita
tahu bahwa tiga khiyanat tersebut dalam satu kutipan, ini memaksa orang yang
membaca perkataan Ibnu al Qayyim untuk tidak mempercayai satu kutipan-pun yang
ia lakukan, karena tidak ada bedanya antara satu kutipan dengan yang lain, jika
terbukti khiyanatnya dalam kutipan ini maka bisa saja khiyanat itu terjadi
dalam kutipan-kutipannya yang lain”.
Pengarang kitab
Kifayah al Akhyar; Al Imam Taqiyyuddin al Hushni dalam buku bantahannya
terhadap Ibnu Taimiyah “Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrada Wa Nasaba
Dzalika Ila as-Sayyid al Jalil al Imam Ahmad” setelah
menyingkap kebohongan-kebohongan Ibnu Taimiyah memperingatkan:[5]
وَإِذَا عَرَفْتَ
هذَا فَيَنْبَغِي أَيُّهَا الْمُؤْمِنُ الْخَالِي مِنَ البِدْعَةِ وَالْهَوَى أَنْ
لاَ تُقَلِّدَهُ فِيْمَا يَنْقُلُهُ وَلاَ فِيْمَا يَقُوْلُهُ، بَلْ تَفَحَّصْ
عَنْ ذلِكَ وَاسْأَلْ غَيْرَ أَتْبَاعِهِ مِمَّنْ لَهُ رُتْبَةٌ فِي العُلُوْمِ
وَإِلاَّ هَلَكْتَ كَمَا هَلَكَ هُوَ وَأَتْبَاعُهُ.
“Jika anda ketahui ini, maka
selayaknya bagi anda -Wahai saudaraku mukmin yang bersih dari bid’ah dan akidah
yang menyimpang- tidak mengikuti Ibnu Taimiyah dalam semua kutipannya dan dalam
semua perkataannya, sebaliknya telitilah tentang kutipan dan perkataannya dan
bertanyalah kepada selain pengikutnya; para ulama yang memiliki tingkatan
tinggi dalam semua disiplin ilmu, jika tidak begitu engkau akan celaka seperti
Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya”.[6]
II.
Khiyanah Ilmiyyah
A.
Dalam Naskh
Beberapa
karya para ulama ketika ditulis ulang (digandakan) dibuang beberapa bagiannya
karena tidak sesuai dengan selera pihak-pihak yang menggandakannya, seperti
perlakuan mereka terhadap Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi
seperti disinyalir oleh al Imam Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat-nya.
At-Taj as-Subki menegaskan:[7]
"وَقَدْ وَصَلَ حَالُ بَعْضِ
الْمُجَسِّمَةِ فـِيْ زَمَانِنَا إِلَى أَنْكَتَبَ شَرْحَ صَحِيْحِ مُسْلِمٍ لِلشَّيْخِ
مُـحْيِي الدِّيْنِ النَّوَوِيِّ وَحَذَفَ مِنْ كَلاَمِ النَّوَوِيِّ مَا تَكَلَّمَ
بِـهِ عَلَى أَحَادِيْثِ الصِّفَاتِ، فَإِنَّ النَّـوَوِيَّ أَشْعَرِيُّ العَقِيْدَةِ
فَلَمْ تَـحْمِلْ قُوَى هذَا الكَاتِبِ أَنْ يَكْتُبَ الكِتَابَ عَلَى الوَضْعِ
الَّذِي صَنَّـفَهُ مُصَنِّفُهُ، وَهذَا عِنْدِي مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُ
تَـحرِيْفٌ لِلشَّرِيْعَةِ وَفَتْحُ بَابٍ لاَ يُؤْمَنُ مَعَهُ بِكُتُبِ النَّاسِ
وَمَا فِـيْ أَيْدِيْهِمْ مِنَ الْمُصَنَّفَاتِ، فَقَبَّحَ اللهُ فَاعِلَهُ وَأَخْزَاهُ،
وَقَدْ كَانَ فِـيْ غُـنْـيَةٍ عَنْ كِتَابَةِ هذَا الشَّرْحِ وَكَانَ الشَّرْحُ فـِيْ
غُـنْـيَةٍ عَنْهُ".
“Di masa kita ini, keadaan sebagian Mujassimah telah sampai
pada tahap di mana mereka menulis Syarh Shahih Muslim karya Syeikh Muhyiddin
an-Nawawi dan membuang perkataan
an-Nawawi yang berbicara tentang hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah,
karena an-Nawawi berakidah Asy’ariyyah maka orang yang menulis Syarh tersebut
tidak tahan untuk menulis kitab tersebut seperti dikarang oleh pengarangnya.
Ini menurutku termasuk dosa besar karena ini adalah perbuatan menyelewengkan
syari’at dan membuka pintu yang mengakibatkan ketidakpercayaan terhadap
kitab-kitab dan karangan-karangan yang ada di tangan masyarakat, semoga Allah
menghinakan pelakunya, sesungguhnya orang tersebut tidak perlu menulis Syarh
Muslim tersebut dan Syarh tersebut tidak membutuhkan kepadanya”.
Jika kita cermati, peristiwa ini
terjadi di masa lalu, di mana saat itu satu-satunya cara untuk menggandakan
kitab-kitab karya para ulama adalah dengan ditulis ulang dengan tangan,
bagaimana dengan kondisi sekarang di mana sangat mudah untuk menggandakan
kitab-kitab tersebut ?!. Ternyata sejarah berulang kembali dan sekarang perilaku tidak terpuji tersebut
terjadi secara besar-besaran dan seringkali merupakan proyek yang terencana
dengan baik dari segi tenaga dan dananya.
Anehnya lagi, sebagian besar dilakukan oleh kalangan yang disebutkan
oleh Imam Tajuddin as-Subki. Selebihnya dilakukan oleh orang-orang yang tidak
bertanggungjawab dan dibutakan hatinya oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Fakta-fakta tersebut sepenuhnya akan diungkap di bawah.
B.
Dalam Naql
Beberapa Contoh Kasus: Abdul Aziz ibn
Abdullah ibn Baz dalam fatwa bantahan terhadap fatwa al Albani, yang dimuat
dalam Majallah al Buhuts al Islamiyyah
tentang hukum bolehnya memakai perhiasan emas yang berbentuk lingkaran bagi
kaum wanita menukil perkataan Imam an-Nawawi dalam al Majmu' Syarh al Muhadzdzab:[8]
فَرْعٌ : قَالَ أَصْحَابُنَا : يَجُوْزُ لِلنِّسَاءِ لُبْسُ أَنْوَاعِ
الْحُلِيِّ كُلِّهَا مِنَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ؛ الْخَاتَمِ وَالْحَلْقَةِ
وَالسِّوَارِ وَالْخَلْخَالِ وَالطَّوْقِ وَالْعِقْدِ وَالتَّعَاوِيْذِ
وَالْقَلاَئِدِ وَغَيْرِهَا.
“Cabang (permasalahan): Para sahabat kami
(Tokoh-tokoh besar Madzhab Syafi'i) berkata: Boleh bagi kaum wanita memakai
semua jenis perhiasan dari emas dan perak; cincin, gelang, gelang kaki, kalung,
ta'awidz (hirz yang dikalungkan) dan lainnya.”
Maka Ibnu Baaz
membuang kata “وَالتَّعَاوِيْذِ” dari perkataan an-Nawawi tersebut, karena bertentangan
dengan akidah Wahhabi.
Untuk mendukung
pendapatnya, Ibnu Taimiyah menyelewengkan fatwa al ‘Izz ibn Abdis Salam. Ibnu
Abdis Salam yang berbicara tentang al
Iqsam ‘ala Allah dengan makhluk-Nya dan beliau berpendapat jika hadits
tentang hal itu sahih maka hendaknya al
Iqsam ‘ala Allah dikhususkan dengan Nabi, kemudian diselewengkan oleh Ibnu
Taimiyah bahwa yang dimaksud oleh Ibnu Abdis Salam adalah masalah tawassul yang
hendaknya dikhususkan dengan Nabi saja. Syekh Abdullah al Ghumari menjelaskan:[9]
هذَا
وَقَدْ نَقَلَ ابْنُ تَيْمِيَةَ فِي مَجْمُوْعَةِ الرَّسَائِلِ الكُبْرَى أَنَّ
عِزَّ الدِّيْنِ بنَ عَبْدِ السَّلاَمِ فِي فَتَاوِيْهِ أَجَازَ التَّوَسُّلَ
بِالنَّبِيِّ r
وَجَعَلَهُ مِنْ خُصُوْصِيَّاتِـهِ وَقَلَّدَهُ فِي هذَا النَّقْلِ
الشَّوْكَانِيُّ فِي الدُّرِّ النَّضِيْدِ وَإِنْ لَمْ يُصَرِّحْ بِذلِكَ
وَنَاقَشَهُ فِي دَعْوَى الْخُصُوْصِيَّةِ وَرَأَى –أَعْنِي الشَّوْكَانِيّ-
جَوَازَ التَّوَسُّـلِ بِالعُلَمَاءِ وَنَحْوِهِمْ، وَالوَاقِعُ أَنَّ النَّقْلَ
الْمَذْكُوْرَ غَلَطٌ أَوْ تَحْرِيْفٌ مِنَ ابْنِ تَيْمِيَةَ لأَنِّي قَرَأْتُ
الفَتَاوَى الْمَوْصِلِيَّةَ لِلعِزِّ ابنِ عَبْدِ السَّلاَمِ فَوَجَدْتُ
كَلاَمَهُ فِي الإِقْسَامِ عَلَى اللهِ بِخَلْقِهِ فَهُوَ الَّذِي قَالَ فِيْهِ
أَنَّهُ مِنْ خُصُوْصِيَّاتِ النَّبِيِّ r
لاَ مُطْلَقِ التَّوَسُّـلِ الَّذِيْ هُوَ سُؤَالُ اللهِ بِبَرَكَةِ فُلاَنٍ أَوْ
جَاهِـهِ فَإِنَّ هذَا لَمْ يَتَعَرَّضْ لَـهُ، وَهكَذَا نَقَلَهُ أَصْحَابُ
الْخَصَائِصِ كَالْحَافِظِ السُّيُوْطِيِّ وَالقَسْطَلاَّنِيِّ وَغَيْرِهِمَا
مُسْتَدِلِّيْنَ بِهِ عَلَى أَنَّ الإِقْسَامَ عَلَى اللهِ تَعَالَى بِالنَّبِيِّ r
مِنْ خُصُوْصِيَّاتِـهِ، وَهذَا غَيْرُ مَا نَحْنُ فِيْهِ وَهُوَ التَّوَسُّـلُ
إِلَى اللهِ بِجَاهِهِ مَثَلاً بِدُوْنِ إِقْسَامٍ عَلَيْهِ.
“Ibnu
Taimiyah telah menukil dalam Majmu’ah ar-Rasa-il al Kubra bahwa ‘Izzuddin ibn
Abdis Salam dalam kumpulan fatwanya membolehkan tawassul dengan Nabirdan ia menjadikan itu termasuk salah satu kekhususan
Nabi, penukilan ini diikuti oleh asy-Syaukani dalam ad-Durr an-Nadlid meski ia
tidak menyebutkan itu dengan tegas, dan asy-Syaukani mendebatnya tentang klaim
kekhususan tersebut dan asy-Syaukani berpendapat bolehnya bertawassul dengan
para ulama dan semacamnya. Faktanya penukilan ini keliru atau bahkan
penyelewengan oleh Ibnu Taimiyah, karena saya telah membaca al Fataawa al
Mawshiliyyah karya al ‘Izz ibn Abdis Salam, aku dapati perkataannya tentang al
Iqsam ‘ala Allah dengan makhluk-Nya, inilah yang menurut Ibnu Abdis Salam
khushushiyyat Nabi, bukan tawassul yang merupakan permintaan kepada Allah
dengan berkah si fulan atau kemuliaan Fulan, ini tidak dibicarakan oleh al
‘Izz. Demikian pula fatwa tersebut dikutip oleh para pengarang kitab-kitab
Khasha-ish seperti al Hafizh as-Suyuthi, al Qasthallani dan lainnya, mereka
berdalil dengan perkataan al ‘Izz bahwa al Iqsam ‘ala Allah dengan Nabirtermasuk khushushiyyat Nabi, ini jauh berbeda dengan
tema bahasan kita, yaitu tentang tawassul kepada Allah dengan kemuliaan Nabi
tanpa bersumpah kepada Allah dengan nama Nabi misalnya.”
C.
Dalam
Penisbatan Aqwal
Beberapa Contoh:
1-
Kasus Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah[10]
dalam karya-karyanya selalu menisbatkan pendapatnya kepada para ulama Salaf,
ahli hadits, a-immah as-Sunnahsecara
umum tanpa menyebut nama. Kadang ia nisbatkan kepada para imam madzhab empat
atau sebagian ulama madzhab empat dengan atau tanpa menyebut nama. Seringkali
Ibnu Taimiyah sengaja menyebutnya secara global tanpa menyebut nama karena
memang dia tidak bisa membuktikan hal itu, dan sering dia menyebut beberapa
nama dan pada kenyataannya nama yang disebut tidak terbukti berpendapat sama
dengan Ibnu Taimiyah. Ini semua dilakukan untuk propaganda, pengelabuan agar
orang mengikuti pendapatnya. Sebagai contoh Ibnu Taimiyah menyebutkan
pendapatnya bahwa meyakini adanya hawa-dits
la awwala laha adalah pendapat para ahli hadits dari kalangan ashhab
asy-Syafi’i, Ahmad dan semua kelompok tanpa menyebut nama,[11]
Ibnu Taimiyah menyebutkan pendapatnya bahwa Allah berbicara dan diam adalah
pendapat a-immah as-Sunnah,[12]
Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya menyebutkan pendapat mereka bahwa neraka
akan punah adalah pendapat Umar bin al Khaththab, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah,
Abu Sa’id dan lainnya.[13]
Syekh Abdullah al Harari menegaskan:[14]
فَانْظُرُوْا كَيْفَ افْتَرَى كَعَادَتِهِ هذِهِ
الْمَقُوْلَةَ الْخَبِيْثَةَ عَلَى أَئِمَّةِ الْحَدِيْثِ، وَهذَا شَىْءٌ
انْفَرَدَ بِهِ وَوَافَقَ بِهِ مُتَأَخِّرِيْ الفَلاَسِفَةِ، لكِنَّهُ تَقَوَّلَ
عَلَى أَئِمَّةِ الْحَدِيْثِ وَالفُقَهَاءِ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ
وَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِمْ وَافْتَرَى عَلَيْهِمْ، وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ مِنْهُمْ
ذلِكَ لكِنْ أَرَادَ أَنْ يُرَوِّجَ عَقِيْدَتَـهُ الْمُفْتَرَاةَ بَيْنَ
الْمُسْلِمِيْنَ عَلَى ضِعَافِ الأَفْهَامِ، وَيَرْبَأُ بِنَفْسِهِ عَنْ أَنْ
يُقَالَ إِنَّهُ وَافَقَ الفَلاَسِفَةَ فِي هذِهِ العَقِيْدَةِ.
“Lihatlah bagaimana Ibnu Taimiyah berdusta
seperti kebiasaannya menisbatkan pendapat yang keji ini kepada para ulama
hadits, padahal pendapat ini (pendapatnya bahwa jenis alam azali) adalah
pendapat pribadinya dan dalam hal ini ia sependapat dengan generasi akhir para
filsuf, akan tetapi ia menisbatkan itu kepada para ulama hadits dan fiqh dari
kalangan ashhab asy-Syafi’i, Ahmad dan lainnya dan berdusta terhadap mereka,
padahal tidak ada seorang-pun di antara mereka yang berpendapat seperti itu,
tetapi Ibnu Taimiyah ingin memasarkan akidahnya yang dusta itu di antara kaum
muslimin yang lemah pemahamannya dan enggan untuk disebut bahwa ia menyamai
para filsuf dalam akidah ini.”
Syekh Abdullah al Harari juga
menegaskan:[15]
"أَقُوْلُ: فَلاَ يَغْتَـرَّ مُطَالِعُ كُتُبِهِ بِنِسْـبَةِ
هذَا الرَّأْيِ الفَاسِدِ إِلَى أَئِمَّةِ أَهْلِ السُّـنَّةِ وَذلِكَ دَأْبُـهُ
أَنْ يَنْسِبَ رَأْيَـهُ الَّذِيْ يَرَاهُ وَيَهْوَاهُ إِلَى أَئِمَّةِ أَهْلِ
السُّـنَّةِ، وَلْيَعْلَمِ النَّاظِرُ فِي مُؤَلَّفَاتِـهِ أَنَّ هذَا تَلْبِيْسٌ وَتَمْوِيْهٌ
مَحْضٌ يُرِيْدُ أَنْ يُرَوِّجَهُ عَلَى ضُعَفَاءِ العُقُوْلِ الَّذِيْنَ لاَ
يُوَفِّقُوْنَ بَيْنَ العَقْلِ وَالنَّقْلِ."
“Saya berkata: Janganlah pembaca buku-buku
Ibnu Taimiyah terperdaya dengan penisbatan pendapat yang batil ini kepada para
imam di kalangan Ahlussunnah, karena sudah menjadi kebiasaan Ibnu Taimiyah
menisbatkan pendapat yang dia gandrungi kepada para ulama Ahlussunnah, dan
hendaklah pembaca karya-karya Ibnu Taimiyah ketahui bahwa ini adalah kelicikan
dan tipuan belaka karena ia ingin memasarkan pendapatnya kepada orang-orang
yang lemah akalnya yang tidak bisa mengkompromikan antara akal dan dalil naql.”
وَكُلُّ هذَا يَدُلُّكَ عَلَى أَنَّ ابْنَ تَيْمِيَةَ لاَ يَسْلُكُ
فِي بُحُوْثِـهِ مَسْلَكَ العَالِمِ الْمُنْصِفِ الَّذِيْ يَحْكِي آرَاءَ
مُخَالِفِيْهِ بِمُنْتَهَى الأَمَانَةِ وَالدِّقَّـةِ، بَلْ يُحَاوِلُ
بِمُخْتَلَفِ الأَسَالِيْبِ أَنْ يُؤْثِّرَ فِي قَارِئِهِ وَيُوْهِمُهُ بِأَنَّ
رَأْيَـهُ فَقَطْ هُوَ الصَّوَابُ، وَأَنَّـهُ لاَ يُعْرَفُ بَيْنَ الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ وَسَلَفِ الأُمَّةِ قَوْلٌ يُخَالِفُ مَا اخْتَارَهُ وَذَهَبَ
إِلَيْهِ إِلَى ءَاخِرِ التَّهْوِيْلاَتِ الَّتِي اعْتَادَهَا فِي كَلاَمِهِ
لِلتَّأْثِيْرِ بِهَا عَلَى قُرَّائِـهِ بِحَيْثُ يُشْعِرُكَ أَنَّ رَأْيَـهُ
إِجْمَاعٌ، ثُمَّ لاَ يَلْبَثُ أَنْ يَعْتَرِفَ فِي غُضُوْنِ كَلاَمِهِ
بِإِثْبَاتِ مَا نَفَاهُ وَهَدْمِ مَا بَنَاهُ، وَمِنْ هُنَا كَثُرَ التَّنَاقُضُ
فِي كُتُبِ ابْنِ تَيْمِيَةَ بِشَكْلٍ لَمْ يُعْهَدْ فِي كُتُبِ غَيْرِهِ مِنَ
العُلَمَاءِ، بَلْ يَتَنَاقَضُ فِي الكِتَابِ الوَاحِدِ عِدَّةَ مَرَّاتٍ
فَيُصَحِّحُ الْحَدِيْثَ فِي مَوْضِعٍ وَيُعِلُّهُ فِي مَوْضِعٍ ءَاخَرَ،
وَيَنْفِي وُجُوْدَ الْخِلاَفِ فِي مَسْأَلَةٍ ثُمَّ يَحْكِيْهِ فِيْهَا بَعْدَ
ذلِكَ، وَهكَذَا، وَمَا هذَا شَأْنُ العُلَمَاءِ الْمُنْصِفِيْنَ، وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ.
“Ini semua
menunjukkan kepada anda bahwa Ibnu Taimiyah dalam penelitian dan
kajian-kajiannya tidak bersikap seperti layaknya seorang ulama yang obyektif
yang menyebutkan pendapat-pendapat para ulama yang berbeda dengannya dengan
penuh amanah dan ketelitian, sebaliknya dengan berbagai cara ia berusaha
mempengaruhi pembacanya dan mengesankan kepadanya bahwa pendapatnya sajalah
yang benar, tidak diketahui ada pendapat di kalangan para sahabat, tabi’in dan
ulama salaf yang menyalahi apa yang dia pilih dan dia ikuti, dan demikian
seterusnya gaya-gaya pembenaran yang biasa dia gunakan dalam perkataannya untuk
mempengaruhi para pembacanya, sehingga ia mengesankan bahwa pendapatnya adalah
ijma’, kemudiantidak lama setelah itu di sela-sela perkataannya ia menetapkan
apa yang sebelumnya ia nafikan dan ia robohkan apa yang sebelumnya ia bangun.
Dari sini, banyak kontradiksi dalam buku-bukunya dengan prosentase yang belum
pernah ada pada ulama lain, bahkan dalam satu buku yang sama Ibnu Taimiyah bisa
bertolak belakang perkataan-perkataannya beberapa kali, ia sahihkan hadits di
suatu tempat lalu ia cacat di bagian lain, dia nafikan adanya perbedaan
pendapat di suatu masalah kemudian setelah itu ia sebutkan khilaf dalam masalah
tersebut, dan demikian seterusnya, ini bukanlah perangai para ulama yang
obyektif dan kepada Allah-lah kita memohon taufiq.”
Syekh Ibnu Hajar al Haytami juga
menegaskan:[17]
مَنْ هُوَ ابْنُ
تَيْمِيَةَ حَتَّى يُنْظَرَ إِلَيْهِ أَوْ يُعَوَّلَ فِي شَىْءٍ مِنْ أُمُوْرِ
الدِّيْنِ عَلَيْهِ ؟! وَهَلْ هُوَ إِلاَّ كَمَا قَالَ جَمَاعَةٌ مِنَ الأَئِمَّةِ
الَّذِيْنَ تَعَقَّبُوْا كَلِمَاتِهِ الفَاسِدَةَ وَحُجَجَهُ الكَاسِدَةَ حَتَّى
أَظْهَرُوْا عُوَارَ سَقَطَاتِهِ وَقَبَائِحَ أَوْهَامِهِ وَغَلَطَاتِهِ كَالعِزِّ
بنِ جَمَاعَةَ: عَبْدٌ أَضَلَّهُ اللهُ تَعَالَى وَأَغْوَاهُ وَأَلْبَسَهُ رِدَاءَ
الْخِزْيِ وَأَرْدَاهُ، وَبَوَّأَهُ مِنْ قُوَّةِ الافْتِرَاءِ وَالكَذِبِ مَا
أَعْقَبَهُ الْهَوَانَ وَأَوْجَبَ لَهُ الْحِرْمَانَ.
“Siapakah Ibnu Taimiyah sehinggu
perlu dilihat atau dirujuk pendapatnya dalam urusan-urusan agama ?! Bukankah
Ibnu Taimiyah tiada lain hanya seperti yang dikatakan oleh sekelompok para
ulama yang mengkritisi perkataan-perkataannya yang menyimpang dan
hujjah-hujjahnya yang lemah sehingga mereka singkap kesalahan-kesalahan,
keburukan-keburukan pemahamannya seperti al ‘Izz ibn Jama’ah: Ibnu Taimiyah
adalah seorang hamba yang disesatkan dan disimpangkan oleh Allah, Allah berikan
kepadanya selendang kerendahan dan kehinaan, Allah berikan kepadanya kekuatan
dan kelihaian untuk berbohong dan berdusta yang mengantarkannya kepada kehinaan
dan mengakibatkannya terhalang.”
Ibnu Taimiyah berdusta
terhadap kakeknya. Al Kawtsari menegaskan:[18]
وَفِي التَّذْكِرَةِ
لِلإِمَامِ الكَبِيْرِ أَبِي الوَفَاءِ بْنِ عَقِيْلٍ الْحَنْبَلِيِّ: وَإِذَا
قَالَ أَنْتِ طَالِقٌ ثَلاَثًا إِلاَّ طَلْقَتَيْنِ وَقَعَتْ الثَّلاَثُ لأَنَّـهُ
اسْتِـثْنَاءُ الأَكْثَرِ فَلَمْ يَصِحَّ الاسْتِثْـنَاءُ. وَقَالَ أَبُوْ
البَرَكَاتِ مَجْدُ الدِّيْنِ عَبْدُ السَّلاَمِ بْنُ تَيْمِيَةَ الْحَرَّانِيُّ
الْحَنْبَلِيُّ مُؤَلِّفُ مُنْـتَقَى الأَخْبَارِ فِي كِتَابِـهِ الْمُحَرَّرُ:
وَلَوْ طَلَّقَهَا اثْنَتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا بِكَلِمَةٍ أَوْ كَلِمَاتٍ فِي
طُهْرٍ فَمَا فَوْقَ مِنْ غَيْرِ مُرَاجَعَةٍ وَقَعَ وَكَانَ لِلسُّـنَّةِ،
وَعَنْهُ لِلْبِدْعَةِ وَعَنْهُ الْجَمْعُ فِي الطُّهْرِ بِدْعَـةٌ،
وَالتَّفْرِيْقُ فِي الأَطْهَارِ سُـنَّةٌ ا.هـ. وَأَحْمَدُ بْنُ تَيْمِيَةَ
يَرْوِيْ عَنْ جَدِّهِ هذَا أَنَّـهُ كَانَ يُفْتِيْ سِرًّا بِرَدِّ الثَّلاَثِ
إِلَى وَاحِدَةٍ وَأَنْتَ تَرَى نَصَّ قَوْلِـهِ فِي الْمُحَرَّرِ، وَنُبْرِئُ
جَدَّهُ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ يُبَـيِّتُ مِنَ القَوْلِ خِلاَفَ مَا يُصَرِّحُ بِـهِ
فِي كُتُـبِهِ، وَإِنَّمَا ذلِكَ شَأْنُ الْمُنَافِقِيْنَ وَالزَّنَادِقَـةِ،
وَقَدْ بَلَوْنَا الكَذِبَ كَثِيْرًا فِيْمَا يَنْقُلُهُ ابْنُ تَيْمِيَةَ فَإِذَا
كَذَبَ عَلَى جَدِّهِ هذَا الكَذِبَ الْمَكْشُوْفَ لاَ يَصْعُبُ عَلَيْهِ أَنْ
يَكْذِبَ عَلَى الآخَرِيْنَ نَسْأَلُ اللهَ السَّلاَمَـةَ.
“Dalam kitab at-Tadzkirah karya
ulama besar madzhab hanbali al Imam Abu al Wafa’ ibn ‘Aqil: “Jika suami
berkata: kamu saya talak tiga kecuali dua maka jatuh tiga karena itu adalah mengecualikan
yang paling banyak jadi tidak sah pengecualian tersebut.” Abu al Barakaat
Majduddin Abdus Salam ibnu Taimiyah al Harrani al Hanbali -pengarang Muntaqa al
Akhbar- dalam kitabnya al Muharrar mengatakan: “jika suami mentalak isterinya
talak dua atau tiga dengan satu kalimat atau beberapa kalimat dalam satu kali
suci atau lebih tanpa merujuknya maka jatuh talak tersebut dan statusnya talak
sunni, dan ada riwayat dari imam Ahmad itu adalah talak bid’i, ada riwayat
lagi: menyatukan talak dalam satu kali suci adalah bid’ah dan memisahkan talak
dalam beberapa kali suci adalah sunnah.” Sedangkan Ahmad ibnu Taimiyah
meriwayatkan dari kakeknya ini bahwa beliau secara rahasia memfatwakan bahwa
talak tiga jatuh satu, padahal anda telah membaca sendiri penegasan beliau di
al Muharrar, kita tidak percaya bahwa kakek Ibnu Taimiyah menyembunyikan
pendapat yang berbeda dari apa yang ia tegaskan sendiri di buku-bukunya karena
ini adalah perangai orang-orang munafik dan zindiq (perusak agama), dan kita
sudah tahu persis Ibnu Taimiyah sering berbohong dalam kutipan-kutipannya, jika
Ibnu Taimiyah dengan mudah berdusta terhadap kakeknya maka tidaklah sulit
baginya berdusta kepada orang lain, kita memohon keselamatan kepada Allah.”
2-
Kasus Ibnu al Qayyim
Syekh Musthafa Abu Sayf al Hamami
menegaskan:[19]
"وَاسْمَعْ مَا يَتَضَمَّنُ أَنَّ أَبَا حَنِيْفَةَ t
يُوَافِقُهُ عَلَى الْحُكْمِ بِالكُفْرِ عَلَى كُلِّ مَنْ يُنَـزِّهُ رَبَّـهُ
عَنْ أَنْ يَكُوْنَ جِسْمًا قَاعِدًا عَلَى العَرْشِ قَالَ:
وَكَذلِكَ
النُّعْمَانُ قَـالَ وَبَعْدَهُ يَعْقُوْبُ وَالأَلْفَاظُ لِلنُّعْمَانِ
مَنْ
لَمْ يُقِرَّ بِعَرْشِـهِ سُبْحَانَـهُ فَوْقَ السَّمَاءِ وَفَوْقَ كُلِّ مَكَانِ
وَيُقِرُّ
أَنَّ اللهَ فَوْقَ العَرْشِ لاَ يَخْفَى عَلَيْهِ هَوَاجِسُ الأَذْهَانِ
فَهُوَ الَّذِي لاَ
شَكَّ فِي تَكْفِيْرِهِ للهِ دَرُّكَ مِنْ إِمَامِ زَمَانِ
هذَا
الَّذِي فِي الفِقْهِ الأَكْبَرِ عِنْدَهُمْ وَلَـهُ شُرُوْحٌ عِدَّةٌ لِبَـيَانِ
وَلَقَدْ عَجِبْتُ
وَطَالَ عَجَبِيْ لَمَّا رَأَيْتُ هذَا مُسْنَدًا إِلَى هذَا الإِمَامِ الأَعْظَمِ
فِي كِتَابِـهِ الفِقْهُ الأَكْبَرُ، وَرَاجَعْتُ هذَا الكِتَابَ مِنْ أَوَّلِـهِ
إِلَى آخِرِهِ فَلَمْ أَرَ فِيْهِ إِشَارَةً إِلَى هذَا القَوْلِ، وَالَّذِيْ
وَجَدْتُـهُ فِيْهِ يُنَاقِضُ هذَا النَّقْلَ كُلَّ الْمُنَاقَضَةِ، وَهذَا مَا
يَقُوْلُـهُ t
فِي ذلِكَ الكِتَابِ عَنْ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ: لاَ حَدَّ لَهُ وَلاَ ضِدَّ لَهُ وَلاَ نِدَّ لَهُ وَلاَ مِثْلَ لَهُ ...".
ثُمَّ
قَالَ الْحَمَامِيُّ: "بَلْ
أَوَّلُ كَلِمَةٍ مِنْ هذَا الكَلاَمِ تَرُدُّ عَلَى هذَا الرَّجُلِ أَكْبَرَ
رَدٍّ، فَإِنَّـهُ t
يَقُوْلُ: لاَ حَدَّ لَهُ، وَهذَا
الرَّجُلُ يُحَدِّدُهُ تَعَالَى ثُمَّ يُحَدِّدُهُ، وَأَيْنَ هذَا مِنْ هذَا؟
فهَذَا الرَّجُلُ رَغْمَ دَعْوَاهُ الإِمَامَةَ وَالاجْتِهَادَ الْمُطْلَقَ،
يُرَوِّجُ بِدْعَتَهُ هذِهِ بِالكَذِبِ عَلَى الإِمَامِ أَبِي حَنِيْفَةَ t،
وَهذَا الفِقْهُ الأَكْبَرُ بَيْنَ أَيْدِيْنَا فَلْيُرَاجِعْهُ مَنْ شَاءَ.
وَغَيْرُ غَرِيْبٍ أَنْ يَكْذِبَ هذَا الرَّجُلُ فَإِنَّهُ مُبْتَدِعٌ دَاعِيَةٌ
إِلَى بِدْعَتِهِ غَالٍ فِيْهَا كُلَّ الغُلُوِّ، وَكُلُّ مُبْتَدِعٍ هذَا
شَأْنُـهُ لاَ يَتَوَقَّى الكَذِبَ لِيَنْصُرَ بِدْعَتَهُ كَمَا قَرَّرَهُ
العُلَمَاءُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ".
ثُمَّ
قَالَ الْحَمَامِيُّ:"أَمَّا
الإِمَامُ يَعْقُوْبُ الَّذِيْ هُوَ أَبُوْ يُوْسُفَ t
صَاحِبُ هذَا الإِمَامِ الأَعْظَمِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فَلَمْ أَعْثُرْ لَـهُ
عَلَى كَلاَمٍ كَهذَا بَعْدَ البَحْثِ الطَّوِيْلِ فَلَعَلَّهُ كَذِبٌ ءَاخَرُ
غَيْرَ مَا تَقَدَّمَ، بَلْ لاَ أَشُكُّ فِي أَنَّهُ كَذِبٌ يُرَوِّجُ بِهِ هذَا
الرَّجُلُ بِدْعَتَهُ، وَيَجْعَلُ أَبَا يُوْسُفَ كَالإِمَامِ مِنْ أَسْلاَفِـهِ
فِي اعْتِقَادِ هذَا البَلاَءِ العَظِيْمِ".
“Dengarkanlah perkataan yang
mengandung isi bahwa Abu Hanifah sependapat dengan Ibnu al Qayyim untuk
menghukumi kafir semua orang yang mensucikan tuhannya dari berupa jism yang
duduk di atas ‘arsy, Ibnu al Qayyim mengatakan:
Demikian pula an-Nu’man telah
mengatakan dan setelahnya Ya’qub, dan perkataan ini adalah bunyi perkataan
an-Nu’man / Barang siapa tidak mengakui ‘arsy Allah di atas langit dan di atas
semua tempat / dan mengakui bahwa Allah berada di atas ‘arsy, tidak tersembunyi
bagi-Nya hal-hal yang terlintas dalam pikiran para hamba / maka orang inilah
yang tidak ada keraguan untuk dikafirkan, sungguh hebat engkau wahai Abu Hanifah imam zamannya / inilah yang ada
di dalam kitab al Fiqh al Akbar di kalangan para ulama Hanafiyyah dan ada
beberapa syarah untuk menjelaskan kandungannya.
Saya
(al Hamami) sangat heran dan lama saya keheranan ketika melihat perkataan ini
dinisbatkan kepada al Imam al A’zham Abu Hanifah dalam bukunya al Fiqh al
Akbar, saya merujuk kepada al Fiqh al Akbar dari awal hingga akhir, saya tidak
lihat isyarat sedikit-pun terhadap perkataan tersebut, yang saya temukan justru
pernyataan yang sangat bertentangan dengannya, inilah yang beliau katakan dalam
buku tersebut tentang Allah: “Tidak berlaku ukuran bagi Allah, tidak ada lawan,
bandingan dan serupa bagi Allah…” Kemudian al Hamami berkata: “Sebaliknya kata pertama dalam pernyataan Abu Hanifah membantah Ibnu al
Qayyim dengan bantahan yang sangat kuat, karena Abu Hanifah mengatakan: “Tidak berlaku ukuran bagi Allah,”sedangkan
Ibnu al Qayyim dengan jelas menisbatkan ukuran bagi Allah. Bandingkanlah,
sungguh sangat jauh pernyataan Ibnu al Qayyim dengan perkataan Abu Hanifah
sendiri?!Jadi orang ini meski mengaku sebagai imam dan mujtahid mutlak
mempropagandakan bid’ahnya ini dengan berbohong terhadap Imam Abu Hanifah, al
Fiqh al Akbar ada di tengah-tengah kita, orang yang ingin membuktikan perkataan
saya silahkan melihat sendiri kitab tersebut. Tidaklah aneh jika orang ini
berbohong, karena ia seorang mubtadi’ yang mengajak orang kepada bid’ahnya dan
sangat berlebihan dalam bid’ah tersebut, dan setiap mubtadi’ seperti ini tidak
akan menjauhi kebohongan untuk mendukung bid’ahnya sebagaimana telah dijelaskan
oleh para ulama –radliyallahu ‘anhum-. Kemudian al Hamami berkata: “Sedangkan al Imam Ya’qub, yaitu Abu Yusuf
sahabat Abu Hanifah, saya tidak menemukan perkataannya seperti ini setelah
pencarian yang sangat lama, barang kali itu adalah kebohongan lain, bahkan saya
tidak ragu bahwa itu adalah kebohongan Ibnu al Qayyim untuk mempropagandakan
bid’ahnya, dia jadikan Abu Yusuf seperti halnya imam Abu Hanifah sebelumnya
sebagai salaf (pendahulu) baginya dalam meyakini kesesatan yang sangat besar
ini.”
III.
Bentuk-bentuk
Khiyanah ‘Ilmiyyah
Beberapa kitab yang dinilai maudlu’; dipalsukan dan dinisbatkan
kepada para ulama tertentu, di antaranya:
1.
Tanwir al
Miqbas Min Tafsir Ibn ‘Abbas: tidak sahih sanadnya kepada sahabat
Ibnu ‘Abbas, bahkan riwayatnya munkarah dengan sanad yang dikenal di
kalangan para ulama hadits dengan “Silsilah
al Kadzib” seperti disinyalir oleh al Hafizh al Bayhaqi, al Muhaddits al
Harari al ‘Abdari.[21]
2.
I’tiqad
asy-Syafi’i danWashiyyah al
Imam asy-Syafi’i: I’tiqad asy-Syafi’i yang termaktub dalam Tsabat
al Kurani adalah kebohongan yang dipalsukan terhadap asy-Syafi’i karena diriwayatkan
dari jalur al ‘Isyari Abu Thalib Muhammad ibn Ali (Mughaffal), Abu al ‘Izz ibn Kadisy Ahmad
ibn Ubaidillah, murid al ‘Isyari (mengaku membuat hadits palsu).[22]Demikian
pula Washiyyah al Imam asy-Syafi’i adalah maudlu’ karena di
antara perawinya adalahAbu al Hasan al Hakkari (tukang memalsu hadits).[23]
3.
Ar-Radd ‘ala al
Jahmiyyahwa az-Zana-diqah: dipalsukan terhadap Imam Ahmad ibn Hanbal seperti ditegaskan
oleh adz-Dzahabi.[24]Para Hanabilah
yang mengikuti Imam Ahmad ibn Hanbal dalam bidang fiqh, kalangan
Mutaqaddimin di antara mereka adalah Ahlussunnah, namun kalangan Muta-akhkhirin dari
mereka banyak yang menganut paham tasybih dan tajsim,[25]
sehingga mereka menulis karangan-karangan yang menisbatkan secara dusta kepada
Imam Ahmad bahwa ia mengatakan Allah bertempat di suatu arah, berbicara dengan
huruf dan suara dan lainnya.[26]
Mereka menisbatkan akidah-akidah tasybih dan tajsim tersebut
secara langsung kepada Imam Ahmad atau
mengatasnamakan puteranya; Abdullah atau yang lain.[27]
Oleh karenanya, al Hafizh Ibnu al Jawzi al Hanbali mengarang karya-karya untuk
membersihkan nama Imam Ahmad dan madzhab Hanbali dari akidah-akidah tersebut
dengan tiga karyanya; al Baaz al Asyhab,
Daf’u Syubah at-Tasybih bi Akuff at-Tanzih dan Akhbar
ash-Shifat.[28] Al
Hafizh Abu Hafsh Ibnu Syahin, salah seorang sahabat al Hafizh ad-Daraquthni,
mengatakan:[29]
"رَجُلاَنِ صَالِحَانِ بُلِيَا بِأَصْحَابِ سُوْءٍ، جَعْفَرُ
بْنُ مُحَمَّدٍ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ".
“Ada dua orang saleh diberi ujian oleh Allah dengan
pengikut-pengikut yang menyimpang; Ja’far ash-Shadiq dan Ahmad ibn Hanbal”.
Oleh karenanya para ulama besar
seperti al Bayhaqi dan Fudlala’ al Hana-bilah seperti Abu al Fadl
at-Tamimi, al Hafizh Ibnu al Jawzi dan lainnya meriwayatkan dari Imam Ahmad ibn
Hanbal dengan sanad-sanad yang kuat ajaran-ajaran yang sangat berbeda dengan
yang diriwayatkan oleh Mujassimah al Hana-bilah.
4.
Kitab ar-Ru’yah:
dipalsukan kepada al Imam Abu al Hasan al Asy’ari seperti disinyalir oleh al
Hafizh Ali ibn al Mufadldlal al Maqdisi, al Muhaddits al Harari al ‘Abdari.[30]Al Kawtsari
mensinyalir bahwa cukup sulit sekarang ini menemukan naskah asli yang sahih
dari karya-karya al Imam al Asy’ari yang sangat banyak.[31]Kitab
al Ibanah[32]
yang beredar sekarang tidak dicetak dari manuskrip yang dapat dipercaya,
demikian pula Maqalat al Islamiyyin[33]
menimbulkan tanda tanya besar karena semua naskah yang ada sekarang ini berasal
dari naskah satu-satunya yang berada di tangan salah seorang tokoh al
Hasyawiyyah al Mujassimah yang tidak dapat dipercaya. Seandainya dua kitab yang
beredar sekarang ini seperti itu keadaannya niscaya golongan Mujassimah di masa
lalu dan sekarang tidak akan memusuhi al Asy’ari sedemikian rupa.[34]Demikian
pula semua karya-karya atau perkataan-perkataan yang dinisbatkan kepada al Imam
al Asy’ari yang menyalahi penegasan para murid,[35]
cucu murid al Asy’ari serta tokoh-tokoh ulama Asya’irah lainnya tidak dapat
diterima karena menyalahi Naql al Kaffah ‘an al Kaffah, juga dikarenakan
golongan Hasyawiyyah memusnahkan kitab-kitab al Asy’ari dalam tragedi Baghdad
dan merubah-rubah yang tersisa dan menyisipkan hal-hal yang palsu di dalamnya kemudian
mereka sebarkan padahal menyalahi Naql al Kaffah, juga dikarenakan tidak
diriwayatkan secara Sama’ dengan jalur para ulama Ahlussunnah.[36]Musuh-musuh
al Imam al Asy’ari dari kalangan mubtadi’ah seperti golongan Mu’tazilah,
Mujassimah dan lain-lain[37]juga
telah menisbatkan berbagai pendapat kepadanya secara palsudan telah dijelaskan
kebohongan-kebohongan tersebut oleh al Ustadz Abu al Qasim al Qusyairi dalam
risalahnya; Syikayah Ahlissunnah bi Hikayah Ma Naalahum min al Mihnah,
al Hafizh al Bayhaqi dalam suratnya kepada mentri al ‘Amid al Kandari dan
lainnya.[38]
5.
Kitab Maulid al ‘Arus:
dipalsukan terhadap al Hafizh Ibnu al Jawzi sebagaimana ditegaskan oleh al
Muhaddits al Harari al ‘Abdari.[39]
-
Ad-Dass (Penyisipan)
Beberapa
kitab yang dinilai dimasuki sisipan-sisipan palsu seperti akidah tasybih dan
lainnya, di antaranya:
1.
Tafsir ath-Thabari:disisipi tajsim
di bagian tafsir ayat (Q.S. al Israa’: 79):
zz`ÏBurÈ@ø©9$#ô¤fygtFsù¾ÏmÎ/\'s#Ïù$tRy7©9#Ó|¤tãbr&y7sWyèö7ty7/u$YB$s)tB#YqßJøt¤CÇÐÒÈ
Yaitu
penyebutan riwayat yang tidak sahih dari Mujahid bahwa al Maqam al Mahmud adalah
didudukkannya Nabi di atas ‘Arsy atau Kursi bersama Allah.[40]Padahal
riwayat tersebut lemah, tidak sahih dan bathil sebagaimana ditegaskan oleh al
Hafizh Ibnu al Jawzi, al Wahidi, al Qurthubi, adz-Dzahabi, Ibn al Mu’allim al
Qurasyi dan lain-nya serta menyalahi hadits mutawatir ma’nawi dari Nabi bahwa al
Maqam alMahmud adalah asy-Syafa’ah al ‘Uzhma.[41]
Padahal Ibnu Jarir ath-Thabari mengatakan:[42]
"إِنَّ حَدِيْثَ الْـجُلُوْسِ عَلَى العَرْشِ مُـحَالٌ".
“Sesungguhnya hadits bahwa Nabi
didudukkan di atas ‘Arsy bersama Allah adalah mustahil”.
2.
Al Ibanah karya al Asy’ari:[43]Naskah-naskah
al Ibanah yang beredar saat ini telah disisipi tasybih di dalamnya,
di antaranya perkataan:
"وَمِنْ دُعَاءِ أَهْلِ الإِسْلاَمِ جَـمِيْعًا إِذَا هُمْ رَغِـبُـوْا
إِلَى اللهِ تَعَالَى بِالأَمْرِ النَّازِلِ بِـهِمْ يَقُوْلُوْنَ: يَا سَاكِنَ
العَرْشِ، وَمِنْ حَلِفِهِمْ جَـمِيْعًا قَوْلُـهُمْ: لاَ وَالَّذِيْ احْتَجَبَ بِسَبْعِ
سَـموَاتٍ".
“Di
antara doa kaum muslimin semuanya ketika mereka memohon kepada Allah saat
berada dalam kesulitan, mereka mengatakan: Wahai Dzat yang menempati ‘Arsy,
demikian pula di antara kalimat sumpah mereka semua adalah perkataan mereka:
Tidak, demi Dzat yang menutup diri-Nya dengan tujuh langit”.
Al Imam al Muhaddits al Harari mengutip perkataan
tersebut kemudian menegaskan:[44]
"فَهُوَ كَذِبٌ ظَاهِرٌ تَعَمَّدَ مُفْتَـرِيْهِ عَلَى الأَشْعَرِيِّ
نِسْبَةَ ذلِكَ إِلَيْهِ، لأَنَّ الوَاقِعَ يُكَذِّبُ ذلِكَ فَإِنَّ هَاتَيْنِ العِبَارَتَيْنِ
لَـمْ يُنْقَلاَ عَنْ إِمَامٍ وَلاَ عَنْ عَالِـمٍ أَنَّهُ قَالَ ذلِكَ فِـيْ دُعَائِهِ
أَوْ فِـيْ حَلِفِهِ بَلْ وَلاَ عَنْ عَوَامِّ الْمُسْلِمِيْنَ. فَمَا أَوْقَحَ هذَا
الَّذِي نَسَبَ إِلَيْهِ هذَا الكَلاَمَ فَإِنَّهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اللهِ وَلاَ
مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، فَهذَا الكِتَابُ لاَ يـَجُوْزُ الاعْتِمَادُ عَلَيْهِ لأَنَّ
كُلَّ نُسْخَةٍ فِيْهَا هذَا الكَلاَمُ وَمَا أَشْبَهَهُفَهِيَ مَدْسُوْسَةٌ عَلَى
الإِمَامِ أَبِـيْ الْـحَسَنِ، وَالإِمَامُ أَبُو الْـحَسَنِ مِنْ أَشْهَرِ مَنْ عُلِمَ
بِنَفْيِ التَّحَيُّزِ عَنِ اللهِ، وَقَدْ صَرَّحَ بـِمَنْعِقَوْلِ إِنَّ اللهَ
بِـمَكَانِ كَذَا، وَإِنَّ اللهَ بـِمَكَانٍ وَاحِدٍ أَوْ فِـيْ جَـمِيْعِ
الأَمْكِنَةِ، وَهذَا الَّذِيْ تَوَارَدَ عَلَيْهِ أَصْحَابُنَا الَّذِيْنَ
تَلَقَّوْا عَنْهُ عَقِيْدَةَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالَّذِيْنَ تَلَقَّوْا عَنْهُمْ
وَهَلم جَرَّا".
“Ini
adalah kebohongan yang nyata, pemalsunya sengaja menisbatkan perkataan itu
kepada al Asy’ari, karena fakta yang ada menunjukkan kebohongan pernyataan
tersebut. Dua kalimat ini tidak pernah dinukil dari seorang imam atau ulama
bahwa ia mengatakan itu dalam doa atau sumpahnya, bahkan tidak pernah dinukil
dari orang-orang awam sekalipun. Sungguh, alangkah rendah orang yang menisbatkan perkataan ini,
ia tidak merasa malu kepada Allah, juga kepada kaum muslimin. Jadi kitab ini
tidak boleh dijadikan rujukan karena setiap naskah yang berisi perkataan ini
dan semacamnya adalah sisipan palsu terhadap al Imam Abu al Hasan. Al Imam Abu
al Hasan termasuk orang yang paling terkenal menafikan sifat bertempat dari
Allah, beliau dengan tegas melarang perkataan Allah ada di tempat tertentu,
Allah berada di satu tempat atau di semua tempat, dan inilah yang diriwayatkan
secara turun temurun oleh para ulama kita (Asya’irah) yang mengambil dari
beliau akidah Ahlussunnah dan generasi-generasi berikutnya seterusnya”.
Al Hafizh al Bayhaqi mengutip dari al Imam al Asy’ari bahwa ia
menyatakan:[45]
"إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ
مَكَانَ لَهُ".
“Sesungguhnya Allah tidak berlaku tempat
bagi-Nya”.
Al Imam Abu Manshur al Baghdadi berkata:[46]
وَأَجْمَعُوْا –أَيْ أَهْلُ
السُّـنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ- عَلَى أَنَّـهُ لاَ يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلاَ
يَجْرِيْ عَلَيْهِ زَمَانٌ
“Ahlussunnah
Wal Jama’ah sepakat bahwa Allah tidak diliputi oleh tempat dan tidak dilalui
oleh masa.”
Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah
meridlainya- (227-321 H) dalam Bayan
‘Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah yang
lebih terkenal dengan al ‘Aqidah
ath-Thahawiyyah berkata:
لاَ تَحْـوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ.
“Allah tidak diliputi oleh satu
maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak
seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut.”
Muhaqqiq Kitab I-dlah ad-Dalil juga menyingkap salah satu tahrif dalam cetakan al Ibanah. Setelah
menyebutkan bahwa Muhammad Shalih al ‘Utsaymin menyebutkan dalam risalahnya ‘Aqidah
Ahlissunnah Wal Jama’ah bahwa Allah memiliki sifat ‘Aynayn
Itsnatayn Haqiqiyyatayn (عينين اثنتين حقيقيّتين), ia membantah:[47]
"قُلْتُ: لَـمْ تَرِدْ صِيْغَةُ تَثْـنِيَةِ العَيْنِصِفَةً
للهِ تَعَالَـى فِـي الْقُرْءَانِ الْكَرِيْـمِ، وَلاَ فِـي السُّــنَّةِ الشَّرِيْفَةِ،
وَقَدْ تَقَدَّمَ لَنَا أَنَّـــهُ لاَ يَثْبُتُ للهِ تَعَالـَى صِفَةٌ إِلاَّ مِنْ
خِلاَلِ ءَايَـــةٍ صَرِيْـحَةٍ أَوْ حَدِيْثٍ صَحِيْحٍ أَوْ إِجْـمَاعٍ، وَأَنَّـى
ذلِكَ ؟!. وَأَمَّا مَا جَاءَ فِـي [الإِبَانَةِ] لِلإِمَامِ الأَشْعَرِيِّ رَحِـمَهُ
اللهُ تَعَالَـى فَقَدْ عَلِمَ أَهْلُ الاخْتِصَاصِ أَنَّ الكِتَابَ قَدْ لَعِبَتْ
بِهِ الأَيْدِي كَثِيْـرًا وَأُضِيْفَ إِلَيْهِ وَنُقِصَ مِنْهُ مِـمَّا يُوْجِبُ
الرُّجُوْعَ إِلـَى كَلاَمِ الأَشْعَرِيِّ فِـي كُتُبِهِ الأُخْرَى لِمَعْرِفَةِ أَقْوَالِهِ.
وَهَاكَ مِثْل وَاحِد: جَاءَ فِـي نُسْخَةِ الْـهِنْدِ الْمَطْبُوْعَةِ مِنَ[الإِبَانَةِ]:
وَأَنَّ لَـــهُ عَيْنَيْنِ بِلاَ كَيْفٍ كَمَا قَالَ تَعَالَـى [تَـجْرِي بِأَعْيُـنِـنَا].
وَجَاءَ فِـي نُسْخَةِ الْـجَامِعَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ الْمَطْبُوْعَةِ مِنْهُ بِتَحْقِيْقِ
حَـمَّادٍ الأَنْصَارِيِّ: وَأَنَّ لَــهُ عَيْنًا بِلاَ كَيْفٍ كَمَا قَالَ تَعَالَـى
[تَـجْرِي بِأَعْيُـنِـنَا] (القمر: 14).
وَمَا فِـي طَبْعَةِ الْـجَامِعَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ يُوَافِقُ مَا جَاءَ فِـي الأَسْـمَاءِ
وَالصِّفَاتِ لِلْبَيْهَقِيِّ وَهُوَ أَشْعَرِيٌّ مِنْ أَئِمَّةِ الأَشَاعِرَةِ. وَقَوْلُ
الشيخِ صَالِحٍ: عَيْنَيْنِ حَقِيْقِيَّتَيْنِ، قَوْلٌ مَا جَاءَ بِــهِ كِتَابٌ وَلاَ
سُـــنَّةٌ. قَالَ الشَّيْخُ مُـحَمَّد زَاهِد الكَوْثَرِيُّ: مَنْ قَالَ لَـــهُ
عَيْــنَانِ يَنْـظُرُ بِـهِمَا فَهُوَ مُشَـــبِّهٌ، قَائِلٌ بِالْـجَارِحَةِ، تَعَالَـى
اللهُ عَنْ ذلِكَ".ا.هــــــــ. باختصار
“Aku berkata: Tidak terdapat bentuk Mutsanna dari al ‘Ayn sebagai sifat
Allah dalam al Qur’an al Karim, maupun Sunnah yang mulia, telah kita
ketengahkan bahwa tidak bisa ditetapkan sifat bagi Allah ta’ala kecuali dari
ayat yang tegas, hadits yang sahih atau ijma’, mana ada salah satu dalil ini
?!. Sedangkan yang ada dalam al Ibanah karya al Imam al Asy’ari –rahimahullah-
maka para ahli spesialis telah mengetahui bahwa kitab tersebut telah banyak
diacak-acak oleh tangan banyak orang, ditambah dan dikurangi sehingga
mengharuskan kita merujuk ke perkataan al Asy’ari dalam buku-bukunya yang lain
untuk mengetahui perkataan-perkataannya. Berikut ini satu contoh: dalam al
Ibanah cetakan Indiadisebutkan: “Dan Allah memiliki ‘Aynayn tanpa Kayf
sebagaimana firmanAllah: [تَـجْرِي
بِأَعْيُـنِـنَا]”. Dalam cetakan Universitas Madinah, Tahqiq Hammad al Anshari: “Dan Allah
memiliki ‘Ayn tanpa Kayf sebagaimana firman Allah[تَـجْرِي
بِأَعْيُـنِـنَا]”.Apa yang terdapat dalam cetakan Universitas Madinah sesuai dengan yang
terdapat dalam al Asma’Wa ash-Shifat karya al Bayhaqi,[48]
yang merupakan salah satu tokoh Asy’ariyyah. Perkataan Syeikh Shalih: ‘Aynayn
Haqiqiyyatayn, perkataan yang tidak ada dalam al Qur’an maupun Sunnah. Syekh
Muhammad Zahid al Kawtsari mengatakan: orang yang mengatakan Allah memiliki
‘Aynayn yang dengan keduanya Allah melihat maka ia adalah Musyabbih (orang yang
telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), meyakini anggota badan bagi
Allah, maha suci Allah dari hal ini”.
Perkataan seperti ini sebenarnya juga telah
dikatakan oleh golongan Musyabbihah Mujassimah jauh sebelum Ibnu ‘Utsaymin dan telah dibantah oleh al Hafizh Ibnu al Jawzi
dalam Daf’u Syubah at-Tasybih.[49]
3.
Akhbar ash-shifat karya ad-Daraquthni: Ibn al
Mu’allim al Qurasyi menegaskan bahwa riwayat-riwayat lemah dan palsu tentang
sifat-sifat Allah dalam buku tersebut adalah sisipan palsu terhadap
ad-Daraquthni. Ini didukung oleh al Kawtsari karena melihat perawinya adalah al
‘Isyari kemudian Ibnu Kadisy.[50]Di
antara kebohongan yang dinisbatkan kepada ad-Daraquthni adalah bait-bait yang
dinisbatkan kepadanya oleh Ibnu al Qayyim dalam bukunya Bada-i’ al Fawa-id:[51]
حديث
الشفاعة عن أحمد إلى أحمد المصطفى
مسنده
وجــاء
الـحديـث بإقــعــاده على العرش أيضا فلا
نجحده
أمـــــرّوا
الحديث على وجهه ولا تدخلوا فيه ما
يفسده
ولا
تــــــــنكروا أنّه قـــاعــد ولا
تــــــــــنكروا أنّه يقعده
Padahal bait-bait ini dipalsukan terhadap
ad-Daraquthni seperti ditegaskan oleh al Kawtsari, al Harari al ‘Abdari dan
lainnya.[52]
4.
Tafsir al Qurthubi:disisipi tasybih dalam tafsir
ayat (Q.S. al An’am: 18):
uqèdurãÏd$s)ø9$#s-öqsù¾ÍnÏ$t6Ïã4uqèdurãLìÅ3ptø:$#çÎ7sø:$#ÇÊÑÈ
orang yang membacanya akan menemukan
pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan.[53]
Juga dalam tafsir ayat (Q.S. al A’raf: 54)
§NèO3uqtGó$#n?tãĸóyêø9$#ÇÎÍÈ
karena isinya bertolak belakang
dengan penegasan al Qurthubi sendiri di bagian lain dalam Tafsir-nya dan dalam
bukunya yang lain;at-Tadzkar fi Afdlal al Adzkar.[54]
5.
al Ghun-yah karya Syekh Abdul Qadir al Jilani:
disisipi tasybih; yaitu menetapkan arah bagi Allah, yakni mengatakan Allah di arah atas, bahwa huruf abjad adalah qadim, bahwa Allah bersifat dengan suara
seperti petir dan lainnya[55]sebagaimana ditegaskan oleh an-Najm
al Ashfahani, al Yafi’i, Ibnu Hajar al Haytami dan lainnya.[56]Syekh Ibnu Hajar al Haytami menjelaskan tentang akidah Imam Ahmad ibn
Hanbal dan adanya sisipan-sisipan palsu dalam kitab al Ghun-yah sebagai
berikut:[57]
عَقِيْدَةُ إِمَامِ السُّـنَّةِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ –رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ وَجَعَلَ جِنَانَ الْمَعَارِفِ مُتَـقَلَّبَهُ
وَمَأْوَاهُ وَأَفَاضَ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِ مِنْ سَوَابِغِ امْتِـنَانِهِ
وَبَوَّأَهُ الفِرْدَوْسَ الأَعْلَى مِنْ جِنَانِهِ- مُوَافِقَةٌ لِعَقِيْدَةِ
أَهْلِ السُّـنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ مِنَ الْمُبَالَغَةِ التّآمَّةِ فِي
تَنْـزِيْهِ اللهِ تَعَالَى عَمَّا يَقُوْلُ الظَّالِمُوْنَ وَالْجَاحِدُوْنَ
عُلُوًّا كَبِيْرًا مِنَ الْجِهَةِ وَالْجِسْمِيَّةِ وَغَيْرِهِمَا مِنْ سَائِرِ
سِمَاتِ النَّقْصِ بَلْ وَعَنْ كُلِّ وَصْفٍ لَيْسَ فِيْهِ كَمَالٌ مُطْلَقٌ،
وَمَا اشْتَهَرَ بَيْنَ جَهَلَةِ الْمَنْسُوْبِيْنَ إِلَى هذَا الإِمَامِ
الأَعْظَمِ الْمُجْتَهِدِ مِنْ أَنَّـهُ قَائِلٌ بِشَىْءٍ مِنَ الْجِهَةِ أَوْ
نَحْوِهَا فَكَذِبٌ وَبُهْتَانٌ وَافْتِرَاءٌ عَلَيْهِ فَلَعَنَ اللهُ مَنْ نَسَبَ
ذلِكَ إِلَيْهِ أَوْ رَمَاهُ بِشَىْءٍ مِنْ هذِهِ الْمَثَالِب الَّتِيْ بَـرَّأَهُ
اللهُ مِنْهَا، وَقَدْ بَيَّنَ الْحَافِظُ الْحُجَّةُ القُدْوَةُ الإِمَامُ أَبُوْ
الفَرَجِ بْنُ الْجَوْزِيِّ مِنْ أَئِمَّةِ مَذْهَبِهِ الْمُبَرَّئِيْنَ مِنْ
هذِهِ الوَصْمَةِ القَبِيْحَةِ الشَّنِيْعَةِ أَنَّ كُلَّ مَا نُسِبَ إِلَيْهِ
مِنْ ذلِكَ كَذِبٌ عَلَيْهِ وَافْتِرَاءٌ وَبُهْتَانٌ وَإِنَّ نُصُوْصَهُ
صَرِيْحَةٌ فِي بُطْلاَنِ ذلِكَ وَتَنْـزِيْهِ اللهِ تَعَالَى عَنْهُ، فَاعْلَمْ
ذلِكَ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ، وَإِيَّاكَ أَنْ تُصْغِيَ إِلَى مَا فِي كُتُبِ ابْنِ
تَيْمِيَةَ وَتِلْمِيْذِهِ ابْنِ قَيِّمِ الْجَوْزِيَّـةِ وَغَيْرِهِمَا مِمَّنْ
اتَّخَذَ إِلـهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى
سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيْهِ مِنْ
بَعْدِ اللهِ، وَكَيْفَ تَجَاوَزَ هؤلاَءِ الْمُلْحِدُوْنَ الْحُدُوْدَ
وَتَعَدَّوْا الرُّسُوْمَ وَخَرَقُوْا سِيَاجَ الشَّرِيْعَةِ وَالْحَقِيْقَةِ
فَظَنُّوْا بِذلِكَ أَنَّهُمْ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَلَيْسُوْا كَذلِكَ
بَلْ هُمْ عَلَى أَسْـوَأِ الضَّلاَلِ وَأَقْبَحِ الْخِصَالِ وَأَبْلَغِ الْمَقْتِ
وَالْخُسْرَانِ وَأَنْهَى الكَذِبِ وَالبُهْتَانِ فَخَذَلَ اللهُ مُتَّبِعَهُمْ
وَطَهَّرَ الأَرْضَ مِنْ أَمْثَالِهِمْ، وَإِيَّاكَ أَنْ تَغْـتَرَّ أَيْضًا بِمَا
وَقَعَ فِي الغُـنْيَةِ لإِمَامِ العَارِفِيْنَ وَقُطْبِ الإِسْلاَمِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ الأُسْتَاذِ عَبْدِ القَادِرِ الْجِيْلاَنِيِّ فَإِنَّـهُ
دَسَّـهُ عَلَيْهِ فِيْهَا مَنْ سَيَنْـتَقِمُ اللهُ مِنْهُ وَإِلاَّ فَهُوَ
بَرِيْءٌ مِنْ ذلِكَ وَكَيْفَ تَرُوْجُ عَلَيْهِ هذِهِ الْمَسْئَلَةُ الوَاهِيَةُ
مَعَ تَضَلُّعِهِ مِنَ الكِتَابِ وَالسُّـنَّةِ وَفِقْهِ الشَّافِعِيَّةِ
وَالْحَنَابِلَةِ حَتَّى كَانَ يُفْتِي عَلَى الْمَذْهَبَيْنِ، هذَا مَعَ مَا
انْضَمَّ لِذلِكَ مِنْ أَنَّ اللهَ مَنَّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَعَارِفِ
وَالْخَوَارِقِ الظَّاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ وَمَا أَنْبَأَ عَنْهُ مَا ظَهَرَ
عَلَيْهِ وَتَوَاتَرَ مِنْ أَحْوَالِـهِ.” ثُمَّ قَالَ: "فَمَنْ امْتَنَّ اللهُ
عَلَيْهِ بِمِثْلِ هذِهِ الكَرَامَاتِ البَاهِرَةِ يُتَصَوَّرُ أَوْ يُتَوَهَّمُ
أَنَّـهُ قَائِلٌ بِتِلْكَ القَبَائِحِ الَّتِي لاَ يَصْدُرُ مِثْلُهَا إِلاَّ
عَنِ اليَهُوْدِ وَأَمْثَالِهِمْ مِمَّنْ اسْتَحْكَمَ فِيْهِ الْجَهْلُ بِاللهِ
وَصِفَاتِهِ وَمَا يَجِبُ لَهُ وَمَا يَجُوْزُ وَمَا يَسْتَحِيْلُ ؟! سُبْحَانَكَ
هذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ يَعِظُكُمُ اللهُ أَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ
كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ وَيُبَيِّنُ لَكُمُ الآيَاتِ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ.
وَمِمَّا يَقْطَعُ بِهِ كُلُّ عَاقِلٍ أَنَّ الشَّيْخَ عَبْدَ القَادِرِ لَمْ
يَكُنْ غَافِلاً عَمَّا فِيْ رِسَالَةِ القُشَيْرِيِّ الَّتِي سَارَتْ بِهَا
الرُّكْبَانُ وَاشْتَهَرَتْ بَيْنَ سَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ سِيَّمَا أَهْلِ
التَّحْقِيْقِ وَالعِرْفَانِ وَإِذَا لَمْ يَجْهَلْ ذلِكَ فَكَيْفَ يُتَوَهَّمُ
فِيْهِ هذِهِ القَبِيْحَةُ الشَّنِيْعَةُ وَفِيْهَا عَنْ بَعْضِ رِجَالِهَا
أَئِمَّةِ القَوْمِ السَّالِمِيْنَ عَنْ كُلِّ مَحْذُوْرٍ وَلَوْمٍ أَنَّهُ قَالَ:
كَانَ فِي نَفْسِي شَىْءٌ مِنْ حَدِيْثِ الْجِهَةِ فَلَمَّا زَالَ ذلِكَ عَنِّي
كَتَبْتُ إِلَى أَصْحَابِنَا أَنِّيْ قَدْ أَسْلَمْتُ الآنَ، فَتَأَمَّلْ ذلِكَ
وَاعْتَنِ بِهِ لَعَلَّكَ تُوَفَّقُ لِلْحَقِّ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى
وَتَجْرِيْ عَلَى سَنَنِ الاسْتِـقَامَةِ، ثُمَّ قَالَ: وَمَنْ عَلَى ذلِكَ
الاعْتِـقَادِ لاَ يَنْفَعُ اللهُ بِشَىْءٍ مِنْ آثَارِهِ غَالِبًا.
“Akidah Imam as-Sunnah Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah
meridlainya, menjadikan surga sebagai tempat kembalinya, Allah curahkan kepada
kita dan kepadanya nikmat-nikmatnya dan Allah menempatkannya di al firdaus
al A’la dari surga-Nya- sesuai dengan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah,
yaitu melakukan tanzih dengan sempurna; mensucikan Allah dari keyakinan yang
dikatakan oleh orang-orang kafir dan orang-orang yang ingkar seperti arah, jism
dan sifat-sifat jismiyyah dan lain-lain serta semua sifat kekurangan, bahkan
dari setiap sifat yang tidak mengandung kesempurnaan mutlak. Sedangkan berita
yang tersohor di kalangan orang-orang yang tidak berilmu di antara pengikut
Imam Ahmad bahwa beliau menetapkan salah satu akidah batil tersebut seperti
arah dan semacamnya maka itu adalah dusta, kebohongan terhadapnya, semoga Allah
melaknat orang yang menisbatkan itu kepada Ahmad atau menuduhnya dengan keyakinan-keyakinan
batil yang Allah bersihkan ia darinya. Al Hafizh al Hujjah al Qudwah al Imam
Abu al Faraj Ibnu al Jawzi, salah seorang ulama madzhabnya yang bersih dari
keyakinan keji tersebut, telah menjelaskan bahwa semua yang dinisbatkan kepada
Ahmad di antara keyakinan-keyakinan batil tersebut adalah dusta dan kebohongan
terhadapnya, dan perkataan-perkataan Ahmad sendiri sangat tegas tentang
kebatilan keyakinan-keyakinan keji tersebut dan Ahmad mensucikan Allah darinya,
maka ketahuilah ini, karena ini sangat penting, dan awas, jangan sampai anda
mendengar dan percaya isi buku-buku Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al Jawziyyah
dan lainnya yang telah Allah sesatkan
dan Allah tutup pendengaran dan hatinya, Allah jadikan penghalang di
matanya sehingga siapakah yang bisa memberikan mereka petunjuk setelah Allah
menyesatkan mereka, sungguh betapa orang-orang mulhid tersebut melampaui batas,
menerjang rambu-rambu dan merobek-robek kesucian syari’at dan hakekat, mereka
mengira diri mereka berada dalam petunjuk Allah, padahal mereka tidak seperti
itu, bahkan berada dalam kesesatan yang paling keji, keadaan paling buruk dan
merugi, dan puncak kebohongan dan dusta, semoga Allah tidak menolong pengikut
mereka dan membersihkan bumi ini dari orang-orang seperti mereka. Jangan juga
anda terperdaya dengan apa yang terdapat dalam kitab al Ghun-yah karya Imam al
‘Arifin Quthb al Islam Wal Muslimin al Ustadz Abdul Qadir al Jilani, karena itu
adalah sisipan palsu terhadapnya yang dimasukkan oleh orang-orang yang Allah
akan membalas mereka, karena sebetulnya beliau bersih dan terbebas dari itu,
bagaimana mungkin ia terpengaruh dengan keyakinan-keyakinan batil itu padahal
pengetahuan beliau sangat mendalam tentang al Qur’an dan sunnah, serta fiqh
Syafi’i dan Hanbali sehingga beliau berfatwa sesuai dengan dua madzhab
tersebut, belum lagi apa yang Allah berikan kepada beliau tentang berbagai
macam pengetahuan dan karamaat yang zhahir dan bathin serta ha-liyyah-haliyyah
beliau yang sangat luar biasa dan sudah tersebar secara mutawatir.” Kemudian
Ibnu Hajar mengatakan: “Orang yang dianugerahi oleh Allah karamat-karamat
yang luar biasa seperti ini tidaklah mungkin terbayang bahwa beliau meyakini
keyakinan-keyakinan batil tersebut yang tidak akan pernah muncul kecuali dari
orang-orang yahudi dan semacamnya yang memang sudah begitu parah kebodohan
mereka tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, apa yang wajib bagi Allah, yang ja-iz
dan mustahil bagi-Nya, subhanaka hadza buhtan ‘azhim. Dan yang dipastikan oleh
setiap orang yang berakal bahwa Syekh Abdul Qadir tidaklah mungkin lalai dan
tidak mengetahui apa yang disebutkan dalam Risalah al Qusyairi yang telah
tersebar ke mana-mana dan begitu populer di tengah-tengah ummat Islam, apalagi
para ahli tahqiq dan ‘irfan, jika memang beliau mengetahui itu bagaimana
mungkin terlintas bahwa beliau meyakini keyakinan-keyakinan buruk dan sesat
tersebut, padahal dalam ar-Risalah telah disebutkan dari sebagian tokoh sufi
yang selamat dari setiap keyakinan yang terlarang dan tercela bahwa ia
mengatakan: Dulu di hatiku ada sedikit terpengaruh dengan keyakinan arah bagi
Allah, setelah itu hilang dan lenyap dariku maka aku menulis kepada para
sahabatku bahwa aku baru saja masuk Islam sekarang, renungkanlah itu dan
perhatikan semoga engkau diberikan oleh Allah taufiq kepada kebenaran dan
berjalan di atas jalan yang istiqamah.” Kemudian Ibnu Hajar mengatakan: “Biasanya
orang yang berkeyakinan keji tersebut Allah tidak akan memberikan manfaat
kepada sedikit-pun di antara karangan-karangannya.”
6.
Al Futuhat al Makkiyyah dan Fushush al Hikam karya Ibnu ‘Arabi:telah dimasuki sisipan-sisipan
palsu yang banyak yang mengandung kekufuran yang sharih;yang tidak bisa
ditakwil lagi sebagaimana telah ditegaskan oleh al Hafizh al Faqih Waliyyuddin
al ‘Iraqi dalam bukunya al Ajwibah al Mardliyyah. Kebanyakan
sisipan-sisipan palsu tersebut adalah kalimat-kalimat yang bermakna al
Wahdah al Muthlaqah. Padahal dalam kitab itu sendiri terdapat
kalimat-kalimat yang mencela akidah Hulul dan al Wahdah al Muthlaqah
seperti perkataan Ibnu al ‘Arabi dalam Kitab al Asrar dari al Futuhat
al Makkiyyah:
"مَا قَالَ
بِالاتّـِحَادِ إِلاَّ أَهْلُ الإِلْـحَادِ، وَمَنْ قَالَ بِالْـحُلُوْلِ
فَدِيْنُهُ مَعْلُوْلٌ".
“Tidaklah mengatakan Wahdatul Wujud kecuali orang-orang yang
mulhid (semacam ateis) dan barang siapa meyakini Hulul maka agamanya rusak”.
Oleh karenanya para ulama seperti al Imam Badruddin
Ibnu Jama’ah, Majduddin al Fayruzabadi, Syeikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani dan
lainnya menegaskan bahwa kalimat-kalimat yang menyimpang dalam dua kitab tersebut
adalah sisipan-sisipan palsu. Al Imam Badruddin Ibnu Jama’ah menyatakan:
"جَـمِيْعُ
مَا فِـي كُتُبِ الشَّيْخِ مُـحْيِي الدِّيْنِ مِنَ الأُمُوْرِ الْمُخَالِفَةِ
لِكَلاَمِ العُلَمَاءِ فَهُوَ مَدْسُوْسٌ عَلَيْهِ".
“Semua
yang ada di buku-buku Syekh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi yang menyalahi perkataan para
ulama adalah sisipan palsu terhadapnya”.
Pengarang kitab al Ma’rudlat al Mazburah, salah
seorang ulama fiqh madzhab Hanafi yang terkenal mengatakan:
"تَيَقَّـنَّا
أَنَّ اليَهُوْدَ دَسُّـوْا عَلَيْهِ فِـي فُصُوْصِ الْـحِكَمِ".
“Kami meyakini bahwa orang-orang Yahudi menyisipkan sisipan-sisipan palsu
terhadap Ibnu ‘Arabi dalam Fushush al Hikam”.
Syeikh
Abdul Wahhab asy-Sya’rani dalam Latha-if al Minan Wa al Akhlaqdan al
Yawaqit Waal Jawahir fi Bayan ‘Aqa-id al Aka-bir mengatakan:[58]
"قُلْتُ:
وَقَدْ اخْتَصَرْتُ الفُتُوْحَاتِ الْمَكِّيَّةَ وَحَذَفْتُ مِنْهَا كُلَّ مَا يُـخَالِفُ
ظَاهِرَ الشَّرِيْعَةِ، فَلَمَّا أَخْبَرْتُ بِأَنَّهُمْ دَسُّـوْا فِـي كُتُبِ
الشَّيْخِ مَا يُوْهِمُ الْـحُلُوْلَ وَالاِتّـِحَادَ وَرَدَ عَلَيَّ الشَّيْخُ
شَـمْسُ الدِّيْنِ الْـمَدَنِـيُّ بِنُسْخَةِ الفُتُوْحَاتِ الَّتِـيْ قَابَلَهَا
عَلَى خَطِّ الشَّيْخِ بِقُوْنِيَةَ فَلَمْ أَجِدْ فِيْهَا شَيْئًا مِنْ ذلِكَ
الَّذِيْ حَذَفْتُهُ فَفَرِحْتُ بِذلِكَ غَايَةَ الفَرَحِ فَالْـحَمْدُ للهِ عَلَى
ذلِكَ".
“Aku
berkata: aku telah meringkas al Futuhat al Makkiyyah dan membuang darinya semua
perkataan yang menyalahi zhahir syari’at, maka ketika aku beritahukan bahwa
mereka menyisipkan dalam kitab-kitab Syekh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi
perkataan-perkataan Hulul dan Ittihad datanglah kepadaku Syekh Syamsuddin al
Madani membawa naskah al Futuhat yang ia cocokkan dengan tulisan tangannya
Syekh Muhyiddin di Quniyah, maka aku tidak mendapatkan satu-pun perkataan yang
aku buang tersebut, maka aku sangat bergembira sekali dengan hal itu, segala
puji bagi Allah atas itu semua”.
Sedangkan tentang Syekh Muhyiddin
Ibnu ‘Arabi maka kita meyakini bahwa beliau salah seorang ulama yang saleh dan
shufi sejati yang zahid, dituturkan biografinya oleh al Hafizh Ibnu Hajar dalam
Lisan al Mizan (5/353) dan ia sebutkan bahwa Ibnu ‘Arabi diakui oleh
para pakar hadits di masanya seperti Ibnu an-Najjar. Demikian penjelasan
panjang lebar dengan kutipan-kutipan dari para ulama disampaikan oleh al
Muhaddits al Harari al ‘Abdari.[59]
7.
Tafsir al Alusi: telah
disisipi banyak sekali sisipan-sisipan palsu, salah satu sisipan palsu paling
penting adalah sisipan palsu dalam tafsir ayat (Q.S. al Ma-idah:35):
$ygr'¯»túïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#qà)®?$#©!$#(#þqäótGö/$#urÏmøs9Î)s's#Åuqø9$#ÇÌÎÈ
tentang tawassul, orang yang menelaah pembahasan yang
panjang di sana akan mendapati bagian akhirnya membantah bagian awalnya.[60]Al
Kawtsari juga menegaskan bahwa Nu’man al Alusi tidak bisa dipercaya ketika
mencetak Tafsir ayahnya karena kedekatan hubungannya dengan Shiddiq Hasan Khan
al Qinnuji[61] dan
adanya sisipan-sisipan palsu tersebut bisa dibuktikan dengan membandingkan
cetakan Nu’man al Alusi dengan naskah yang disimpan di Perpustakaan Raghib Pasya
di Istanbul, naskah yang dulunya dihadiahkan oleh pengarangnya kepada Sultan
Abdul Majid Khan.[62]
-
At-Tahrif(Merubah-rubah
dan Menyelewengkan Teks)
Contoh:
Abu Mu’adz Muhammad ibn Abdul Hayy
‘Uwaynah mencetak kitab al Washiyyahkarya
al Imam Abu Hanifah dan merubah teks perkataan Abu Hanifah di dalamnya sehingga
berbeda dengan manuskrip aslinya dan kutipan-kutipan para ulama terhadapnya
seperti Ali al Qari dalam Syarh al Fiqh al Akbar, al Bayadli dalam Isyarat
al Maram dan lainnya.[63]Teks perkataan Abu Hanifah sebenarnya
berbunyi:
"نُـقِـرُّ
بِأَنَّ اللهَ اسْـــــــــتَوَى عَلَى العَرْشِمِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ
حَاجَةٌ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ مِنْ
غَيْرِ احْتِيَاجٍ، وَلَوْ كَانَ مُـحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إِيْـجَادِ العَالَـمِ
وَتَدبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوْقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُـحْتَاجًا إِلَى الْـجُلُوْسِ
وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أَيْنَ كَانَ اللهُ ؟ تَعَالَى عَنْ ذلِكَ عُلُوًّا
كَبِيْرًا".
Pernyataan
Abu Hanifah ini menunjukkan bahwa sifat Istiwa’ Allah bukan maknanya
duduk atau bersemayam di atas ‘Arsy, namun kemudian dirubah agar mengesankan
makna bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy, meskipun itu mengakibatkan teks
tersebut menjadi rancu dan saling bertentangan dengan bagian sebelum dan setelahnya dan
bagian akhirnya. Teks tersebut dirubah dan diselewengkan menjadi:[64]
"نُـقِـرُّ
بِأَنَّ اللهَ اسْـــــــــتَوَى عَلَى العَرْشِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ
حَاجَةٌ وَاسْتَقَرَّ عَلَيْهِ وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ
مِنْ غَيْرِ احْتِيَاجٍ، وَلَوْ كَانَ مُـحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إِيْـجَادِ
العَالَـمِ وَتَدبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوْقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُـحْتَاجًا إِلَى
الْـجُلُوْسِ وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أَيْنَ كَانَ اللهُ ؟ تَعَالَى
عَنْ ذلِكَ عُلُوًّا كَبِيْرًا".
Perubahan dan penyelewengan terhadap
perkataan Abu Hanifah ini membuat semua orang tercengang dan terkejut karena
dalam foto copy manuskrip Kitab al Washiyyah yang dicantumkan sendiri
oleh ‘Uwaynah di halaman-halaman depan edisi yang ia cetak jelas sekali nampak
tulisan (وَاسْتِقْرَارٌ), bukan (وَاسْتَقَرَّ). Ketika kemudian dicek dalam kutipan-kutipan para ulama
ditemukan redaksi aslinya yang membuat penyelewengan tersebut tampak terang
benderang dan tidak samar-samar lagi.
Kitab al
Adzkar karya an-Nawawi di bagian bab Ziarah ke makam Nabi, perkataan
an-Nawawi yang berbunyi:
"فَصْلٌ فِـي زِيَارَةِ
قَبْـرِ رَسُــوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَذْكَارِهَا: اعْلَمْ
أَنَّــهُ يَنْبَغِيْ لِكُلِّ مَنْ حَجَّ أَنْ يَتَوَجَّهَ إِلـَى زِيَارَةِ رَسُــوْلِ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوَاءٌ كَانَ ذلِكَ طَرِيْقَهُ أَوْ لَـمْ
يَكُنْ فَإِنَّ زِيَارَتَــهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهَمِّ القُرُبَاتِ
وَأَرْبَحِ الْمَسَاعِيْ وَأَفْضَلِ الطَّلَبَاتِ، فَإِذَا تَوَجَّهَ لِلزِّيَارَةِ
أَكْثَرَ مِنَ الصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فِـي طَرِيْقِهِ. فَإِذَا وَقَعَ بَصَرُهُ عَلَى أَشْجَارِ الْمَدِيْنَةِ
...".
Karena perkataan an-Nawawi ini dianggap bertentangan dengan ajaran
Wahhabi yang mengharamkan orang melakukan safardengan tujuan ke selain
masjid maka dirubah menjadi:
"فَصْلٌ فِـي زِيَارَةِ
مَسْجِدِ رَسُــوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَذْكَارِهَا:
اعْلَمْ أَنَّـــهُ يُسْتَحَبُّ لِمَنْ أَرَادَزِيَارَةَ مَسْجِدِ رَسُــوْلِ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الصَّلاَةِعَلَيْهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِـي طَرِيْقِهِ. فَإِذَا وَقَعَ بَصَرُهُ عَلَى
أَشْجَارِ الْمَدِيْنَةِ ...".
Hal ini
kemudian disempurnakan dengan membuang kisah al ‘Utbiy.
Kitab ‘Aqidah
as-Salaf Ashhab al Hadits karya ash-Shabuni yang menegaskan dalam
pendahuluannya:
"أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّـيْ لَمَّا وَرَدْتُ آمد
طَبَرِسْتَان وبِلاَدِ جِيْلاَن مُتَوَجِّهًا إِلَى بَيْتِ اللهِ الْـحَرَامِ وَزِيَارَةِ
قَـبْـرِ نَـبِـيِّهِ مُـحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى ءَالِـــــهِ
وَأَصْحَابِهِ الكِرَامِ سَأَلَنِـيْ إِخْوَانِـيْ فِـي الدِّيْنِ أَنْ أَجْـمَعَ
لَـهُمْ فُصُوْلاً فِـي أُصُوْلِ الدِّيْنِ...".
Teks ini
karena dianggap menyimpang kemudian dirubah menjadi:
"أَمَّا
بَعْدُ فَإِنِّـيْ لَمَّا وَرَدْتُ آمد طَبَرِسْتَان وبِلاَدِ جِيْلاَن
مُتَوَجِّهًا إِلَى بَيْتِ اللهِ الْـحَرَامِ وَزِيَارَةِ مَسْجِدِ نَـبِـيِّهِ
مُـحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى ءَالِـــــهِ وَأَصْحَابِهِ الكِرَامِ
سَأَلَنِـيْ إِخْوَانِـيْ فِـي الدِّيْنِ أَنْ أَجْـمَعَ لَـهُمْ فُصُوْلاً فِـي
أُصُوْلِ الدِّيْنِ...".
Dalam Kitab Fath
al Bari fi Syarh Shahih al Bukhari karya al Hafizh Ibnu Rajab al Hanbali, ketika
menjelaskan bagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani bersujud ke kuburan para nabi
mereka dan menjadikan kuburan sebagai kiblat shalat,[65]
Ibnu Rajab berkata:[66]
"قَالَ
ابْنُ عَبْدِ البَرِّ: الوَثَنُ الصَّنَمُ. يَقُوْلُ: لاَتَـجْعَلْقَبْرِيْ صَنَمًا
يُصَلَّى إِلَيْهِ، وَيُسْجَدُ نَـحْوَهُ، وَيُعْبَدُ، فَقَدْ اشْتَدَّ غَضَبُ
اللهِ عَلَى مَنْ فَعَلَ ذلِكَ، وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يُـحَذِّرُ أَصْحَابَهُ وَسَائِرَ أُمَّتِهِ مِنْ سُوْءِ صَنِيْعِ الأُمَمِ قَبْلَهُمْ
الَّذِيْنَ صَلُّوْا إِلَـى قُبُوْرِ أَنْبِيَائِهِمْوَاتَّـخَذُوْهَا قِــــبْلَةً وَمَسْجِدًا كَمَا صَنَعَتْ الوَثَنِيَّةُ
بِالأَوْثَانِ الَّتـِيْ كَانُوْا يَسْجُدُوْنَ إِلَيْهَا وَيُعَظِّمُوْنَـهَا وَذلِكَ
الشِّرْكُ الأَكْبَرُ".
Teks ini
kemudian dirubah untuk menyerang Kubah yang dibangun di atas kuburan,
sehingga teks tersebut disulap menjadi:[67]
"قَالَ
ابْنُ عَبْدِ البَرِّ: الوَثَنُ الصَّنَمُ. يَقُوْلُ: لاَ تَـجْعَلْ قَبْرِيْ
صَنَمًا يُصَلَّى إِلَيْهِ، وَيُسْجَدُ نَـحْوَهُ، وَيُعْبَدُ، فَقَدْ اشْتَدَّ
غَضَبُ اللهِ عَلَى مَنْ فَعَلَ ذلِكَ، وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُـحَذِّرُ أَصْحَابَهُ وَسَائِرَ أُمَّتِهِ مِنْ سُوْءِ
صَنِيْعِ الأُمَمِ قَبْلَهُمْ الَّذِيْنَ صَلُّوْا إِلَـى قُبُوْرِ
أَنْبِيَائِهِمْ وَاتَّـخَذُوْهَاقُــــــبَّــــةًوَمَسْجِدًا كَمَا صَنَعَتْ
الوَثَنِيَّةُ بِالأَوْثَانِ الَّتـِيْ كَانُوْا يَسْجُدُوْنَ إِلَيْهَا
وَيُعَظِّمُوْنَـهَا وَذلِكَ الشِّرْكُ الأَكْبَرُ".
-
Al Hadzf(Membuang
Sebagian Teks)
Contoh:
Syekh Muhammad al ‘Arabi at-Tabban menegaskan:[68]
"وَحَامِلُ
رَايَـــةِ سَلْخِ كَلاَمِ العُلَمَاءِ مِنْ تَآلِيْفِهِمْ وَتَـحْرِيْفِهِ فِـي
هذَا العَصْرِ صَاحِبُ مَـجَلَّةِ الْمَنَارِ، فَمِنْ ذلِكَ أَنَّ شَيْخَ مَشَايـِخِنَا
الْمُحَدِّثَ فَالـِحًا الظَّاهِرِي نَقَلَ فِـي كِتَابِـهِ أَنْـجَحِ الْمَسَاعِي
فِـي صِفَتَيِ السَّامِعِ وَالوَاعِيْ فـِي أَحْكَامِ الْمَسَاجِدِ عَنْ مُغْنـِي
ابْنِ قُدَامَةَ الْـحَنْبَلِيِّ قَبْلَ أَنْ يُطْبَعَ بِدَهْرٍ، اتِّـفَاقَ الْمَذَاهِبِ
الأَرْبَـعَةِ عَلَى إِبَاحَةِ التَّوَسُّـلِ بِالأَوْلِيَاءِ وَالصَّالـِحِيْنَ أَحْيَاءً
وَأَمْوَاتًا، فَلَمَّا طَبَعَهُ الْمَنَارُ سَلَخَ مِنْهُ هذَا الكَلاَمَ، وَأَمَّا
تَـحْرِيْفُهُ لِكَلاَمِ العُلَمَاءِ وَتَقَوُّلُهُ عَلَيْهِمْ وَطَعْنُهُ فِيْهِمْ
وَفِـي الأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ الَّتِـي لاَ تُوَافِقُ هَـوَاهُ أَوْ هَوَى
التَّـيْمِيِّيْنَ فِـي مـَجَلَّتِهِ وَفِـي تَعَالِيْقِهِ فَشَىْءٌ لاَ يُـحْصَرُ".
“Pembawa bendera membuang perkataan para ulama dari karya-karya mereka dan
menyelewengkannya di masa sekarang ini adalah pemilik Majalah al Manar
(Muhammad Rasyid Ridla). Di antaranya: guru dari para guru kami, al Muhaddits
Falih azh-Zhahiri dalam bukunya Anjah al Masa-‘i fi Shifatay as-Sa-mi’ Wa al
Wa-‘i di bagian Ahkam al Masa-jid menukil dari al Mughni karya Ibnu Qudamah
-beberapa waktu sebelum dicetak- kesepakatan madzhab empat yang membolehkan
tawassul dengan para wali dan orang-orang yang saleh baik masih hidup ataupun
sesudah meninggal, maka ketika al Mughni dicetak oleh al Manar ia membuang
perkataan itu. Sedangkan perbuatannya menyelewengkan perkataan para ulama dan
menisbatkan perkataan-perkataan bohong kepada mereka, merendahkan mereka dan
menolak hadits-hadits sahih yangtidak sesuai dengan hawa nafsunya atau hawa
nafsu para pengikut Ibnu Taimiyah di Majalahnya atau catatan-catatan dan
komentar-komentarnya sangatlah banyak”.
Tafsir an-Nahr
al Madd yang merupakan ringkasan dari Tafsiral Bahr al Muhith ketika
dicetak di Mesir maka Mushahhih-nya membuang perkataan Abu Hayyan
tentang akidah Ibnu Taimiyah yang berbunyi:[69]
"وَقَرَأْتُ فِـي كِتَابٍ
لأَحْـمَدَ ابْنِ تَيْمِيَةَ هذَا الَّذِيْ عَاصَرَنَا وَهُوَ بِـخَطِّهِ
سَـمَّاهُ كِتَابَ العَرْشِ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَـجْلِسُ عَلَى الكُرْسِيِّ
وَقَدْ أَخْلَى مِنْهُ مَكَانًا يُقْعِدُ فِيْهِ مَعَهُ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تَـحَيَّلَ عَلَيْهِ التَّاجُ مُـحَمَّدُ بْنُ عَلِيّ
بنِ عبدِ الْـحَقِّ البَارِنْبَارِيِّ وَكَانَ أَظْهَرَ أَنَّهُ دَاعِيَةٌ لَهُ
حَتَّى أَخَذَهُ مِنْهُ وَقَرَأْنَا ذلِكَ فِيْهِ".
“Aku membaca dalam sebuah buku karya Ibnu Taimiyah, yang
semasa dengan kami, dengan tulisan tangannya, ia namakan Kitab al ‘Arsy: Allah
ta’ala duduk di atas Kursi dan mengosongkan sebagian dari Kursi sebuah tempat
untuk mendudukkan Rasulullah di Kursi itu bersama-Nya. Buku ini diperoleh oleh
at-Taj Muhammad ibn Ali ibn Abdul Haqq al Ba-rinbari setelah menampakkan bahwa
dirinya adalah salah seorang kadernya sehingga ia mendapatkan buku tersebut
dari Ibnu Taimiyah dan kami membaca perkataan tersebut di dalamnya”.
Hal ini berdasarkan pengakuan Mushahhih cetakan tersebut kepada
Syeikh Muhammad Zahid al Kawtsari sebagaimana beliau jelaskan dalam karyanya Takmilah
ar-Radd ‘ala Nuniyyah Ibn al Qayyim.[70]
Padahal komentar Abu Hayyan tentang Ibnu Taimiyah ini sudah maklum di kalangan
para ulama karena Abu Hayyan mencantumkannya dalam Tafsirnya an-Nahr al Madd,
tafsir ayat al Kursi, yang dicetak bersama Tafsir besarnya al Bahr al Muhith,[71] dan
terlihat jelas dalam manuskrip an-Nahr al Madd. Hal inilah yang membuat
Abu Hayyan melaknat Ibnu Taimiyah hingga ia meninggal. Para ulama juga
menyebutkan hal ini, bahkan sebagian menukilnya dalam buku-buku mereka seperti
al Hafizh Taqiyyuddin as-Subki dalam as-Sayf ash-Shaqil fi ar-Radd ‘ala Ibn
Zafil, al Hafizh Ibnu Hajar dalam ad-Durar al Kaminah, al Hafizh
Murtadla az-Zabidi dan lainnya.[72]
Hasyiyah ash-Shawi ‘ala Tafsir al Jalalayndicetak dan dibuang dari teksnya
bagian yang menyebut nama Wahhabiyyah yang diidentifikasi oleh ash-Shawi
berperilaku seperti Khawarij:[73]
وَقِيْلَ هذِهِ الآيَـةُ
نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الكِتَابِ
وَالسُّـنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ
كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ الآنَ فِي نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَـةٌ بِأَرْضِ
الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمْ الوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلَى شَىْءٍ أَلاَ
إِنَّهُمْ هُمُ الكَاذِبُوْنَ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ
ذِكْرَ اللهِ أًوْلئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ
الْخَاسِرُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ الكَرِيْمَ أَنْ يَقْطَعَ دَابِرَهُمْ.
Sebagian kalangan mencetak Syarh
Riyadl ash-Shalihin[74]karya
Muhammad ibn Shalih al ‘Utsaymin dan membuang perkataan Imam asy-Syafi’i yang
disebutkan oleh an-Nawawi:[75]
قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَهُ
شَىْءٌ مِنَ القُرْءَانِ، وَإِنْ خَتَمُوْا القُرْءَانَ عِنْدَهُ كَانَ حَسَنًا.
“Asy-Syafi’i –rahimahullah- berkata: Disunnahkan
dibacakan sedikit dari ayat-ayat al Qur’an di dekat mayyit dan jika dikhatamkan
al Qur’an seluruhnya di dekatnya adalah sesuatu yang bagus.”
Perkataan
ini dibuang dari Matn Riyadl ash-Shalihin[76]padahal
komentar-komentar an-Nawawi yang lain, baik yang panjang seperti di awal
beberapa bab atau yang pendek seperti tentang Gharib al Hadits di akhir
sekian banyak hadits yang beliau sebutkan semuanya dicantumkan, kecuali
perkataan an-Nawawi yang ini karena dianggap bertentangan dengan ajaran Wahhabi
yang menganggap haram atau makruh membaca al Qur’an untuk mayit di makamnya
setelah dikuburkan. Ini selain pendapat-pendapat pengarang Syarh yang
bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diikuti dan dijelaskan
oleh an-Nawawi dalam buku-bukunya yang lain seperti masalah bid’ah, melafalkan
niat dan lainnya.[77]
Sebagian kalangan yang mencetak
Kitab al Kalim ath-Thayyib karya Ibnu Taimiyah membuang lafazh “Yaa”
dari kata “Yaa Muhammad” seperti diakui oleh al Albani,[78]
karena ini bertentangan dengan ajaran Wahhabi yang menganggap Istighatsah
dengan Nabi yang sudah meninggal adalah Syirik, padahal Ibnu Taimiyah
menyebutkan atsar tersebut untuk diamalkan ketika kaki seseorang terkena
Khadar; seperti kelumpuhan di kaki.
Kitab al Kaba-ir karya
adz-Dzahabi menyebutkan bahwa dosa besar ke 64 adalah: (أَذِيَّــــــةُ
أَوْلِيَاءِ اللهِ); Adziyyah
Awliya’ Allah (Menyakiti para wali Allah), namun bab dan judul ini tidak
diterima oleh orang-orang Wahhabi sehingga tangan terampil mereka kemudian
membuang bab ini dan menggantinya dengan bab berikutnya yang berbunyi (تَارِكُ
الْـجَمَاعَةِ فَيُصَلِّي وَحْدَهُ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ) dan memberi urutan dosa besar yang di atasnya yang sudah
dibuang.
IV.
Bahaya-bahaya
Khiyanah Ilmiyyah
Fenomena-fenomena
ini adalah sebuah kejahatan terhadap ilmu dan para ulama yang berujung kepada tahrif
asy-Syari’ah dan akan menyebabkan ketidakpercayaan terhadap kitab-kitab
yang ada. Bahaya-bahaya yang akan muncul
dari beberapa bentuk khiyanah Ilmiyyah ini di antaranya adalah:
1.
Bentuk khiyanah ilmiyyah ini jika
terus terjadi maka akanmenghilangkan kepercayaan terhadap naskah kitab-kitab
para ulama klasik.
2.
Memunculkan kesalahpahaman
terhadap para ulama pengarang asli kitab yang sebenarnya.
3.
Merugikan nama baik para ulama
yang bersangkutan.
4.
Mengantarkan kepada pemahaman
yang tidak benar terhadap ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya.
V.
Penutup
Nasehat-nasehat:
-
لا يؤخذ العلم إلا من أفواه
الثقات للفهم الصحيح السليم والأمن من الغلط والتصحيف وسوء الفهم ومن أجل تعرّف
السقط إن كان.
-
الاعتماد في تأهيل طلاّب
العلم على كتب العلماء من المختصرات والمتوسطات والمبسوطات، لا على كتب المعاصرين بالعناوين
المبهرة البرّاقة والواقع أنّها هزيلة في العلم والمحتوى،ولا على المذكّرات التي
تحوي عبارات غير محرّرة وتصويرا غير دقيق للمسائل العلميّة.
-
عدم الاعتماد إلاّ على كتب
علماء أهل السنّة بشروح علماء أهل السنّة وتجنّب كتب الأظنّاء أمثال الصنعاني
والشوكانيّ والشروح الجديدة لعدد من كتب العلماء القدماء.
-
الرجوع إلى الطبعات القديمة
لكتب العلماء لاسيّما في التدريس وتأليف المؤلّفات والتنبّه مع الحذر البالغ من
الطبعات الجديدة نظرا لضياع الأمانة عند كثيرين لأغراض معيّنة وعدم الأهليّة
والكفاءة عند ءاخرين.
[1] Makalah ini disampaikan
oleh H. Muhyiddin Fattah, M.A. dalam acara Halaqah Nasional Kiai Pondok
Pesantren Ahlussunnah Wal Jama’ah tentang Faham Radikalisme di Ponpes al Qur’an
al Falah II Nagreg, Bandung, pada Sabtu, 15 Desember 2012.
[2] Al Kawtsari, Takmilah
ar-Radd ‘ala Nuniyyah Ibn al Qayyim, hal. 63.
[3] Al Harari al ‘Abdari, asy-Syarh
al Qawim fi Hall Alfazh ash-Shirath al Mustaqim, hal. 303. Lebih jauh lihat
al Hafizh Ibnu ash-Shalah, Muqaddimah Ibnu ash-Shalah dalam al Hafizh
Zaynuddin Abdur Rahim al ‘Iraqi, at-Taqyid Wa al I-dlah Lima Uthliqa Wa
Ughliqa Min Kitab Ibn ash-Shalah, hal. 202, 209-211.
[4] Abu Sayf al Hamami, Ghauts
al ‘Ibad bi Bayan ar-Rasyad, hal. 100.
[5] Taqiyyuddin al Hushni, Daf’u
Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrada (Kairo: al Maktabah al Azhariyyah Li
at-Turats, 1350 H), hal. 108.
[6]
Hal yang sama juga ditegaskan oleh al Hafizh Taqiyyuddin as-Subki dalam
kumpulan fatwanya, Fatawa as-Subki (2/210).
[7]Abu
Hamid ibn Marzuq, Bara-ah al Asy’ariyyin Min ‘Aqa-id al Mukhalifin
(1/65).
[9]
Abdullah al Ghumari, Ithaf al Adzkiya’,
hal.24, lihat juga ar-Radd al Muhkam al Matin, hal.54-55, Mishbah
az-Zujajah fi Fawa-id Sholat al Ha-jah, hal.55-62.
[10]Ibnu Taimiyah adalah tokoh Hanabilah
yang paling getol menyebarkan akidah tajsim, dulunya ia belajar fiqh
Hanbali, kemudian mempelajari hadits, kemudian menelaah buku-buku para filosuf
yang kafir, maka ia mengambil dari golongan Musyabbihah akidah-akidah mereka
dan mengambil dari para filosuf sebagian ajaran mereka yang kufur seperti
keyakinan bahwa jenis alam adalah azali bersama Allah. Namun Ibnu Taimiyah
menyembunyikan diri bahwa ia sependapat dengan para filosuf, sebaliknya ia
mengecoh orang dengan kedok ulama atau Syaikh al Hadits.
[13] Ibnu Taimiyah, ar-Radd ‘ala Man
Qala bi Fana’ al Jannah Wa an-Nar, hal.52, Ibnu Abi al ‘Izz, Syarh al ‘Aqidah ath-Thahawiyyah, hal.429.
[14]Al Harari, al Maqaalaat as-Sunniyyah,
hal.73.
[18]
Al Kawtsari, al Isyfaq ‘ala Ahkam ath-Thalaq, hal.43-44.
[20]Penilaian para ulama
terhadap beberapa kitab atau perkataan-perkataan sebagai pemalsuan (al Wadl’),
sisipan-sisipan palsu (ad-Dass) dan semacamnya terhadap sebagian ulama
dan para tokoh sufi bisa dilihat dalam Syeikh Abdul
Wahhab asy-Sya’rani dalam al Yawaqit Wa al Jawahir fi Bayan ‘Aqa-id al
Aka-bir, hal. 7, Latha-if al Minan Wa al Akhlaq, hal. 390-395. Bahkan
di akhir Latha-if al Minan Wa al Akhlaq (hal. 696), Syeikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani berdoa:
"وَأَرْجُوْ مِنْ مَدَدِ رَسُـــــوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَـحْمِيَ هذَا الكِتَابَ مِنْ كُلِّ عَدُوٍّ وَحَاسِدٍ
يَدُسُّ فِـيْ فَوَاصِلِهِ أَوْ غُضُوْنِهِ مَا يُـخَالِفُ ظَاهِرَ الشَّرِيْعَةِ
لِيُنَفِّرَ النَّاسَ عَنِ الْمُطَالَعَةِ فِيْهِ كَمَا فَعَلُوْا فِـيْ
كِتَابِـيْ الْمُسَمَّى بِالْبَحْرِ الْمَوْرُوْدِ فِـيْ الْمَوَاثِيْقِ
وَالعُهُوْدِ، وَفِـيْ مُقَدِّمَةِ كِتَابِـيْ الْمُسَمَّى بِكَشْفِ الغُمَّةِ
عَنْ جَـمِيْعِ الأُمَّــــةِ".
[21] Al Hafizh al Bayhaqi, al
Asma’ Wa ash-Shifat, hal. 414, Syekh Abdullah al Harari al ‘Abdari, al
Maqalaat as-Sunniyyah, hal. 169, ad-Dalil al Qawim ‘ala ash-Shirath al
Mustaqim, hal.144.
[22]Al Kawtsari, Takmilah ar-Radd ‘ala Nuniyyah Ibn al
Qayyim, hal. 123, 155-156, 206.
[23]Al Kawtsari, Takmilah ar-Radd
‘ala Nuniyyah Ibn al Qayyim, hal. 123, Salim ‘Alwan al Husaini, Tafsir
Uli an-Nuha Li Qaulihi ta’ala (الرَّحْـمنُ عَلَى العَرْشِ
اسْتَوَى), hal. 33.
[24] Adz-Dzahabi, Siyar A’lam
an-Nubala’ (11/286-287).
"أَنَا أَعْلَمُ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ كُلَّهُمْ أَشَاعِرَةٌ
لاَ أَسْتَثْنـِيْ أَحَدًا، وَالشَّافِعِيَّةُ غَالِبُهُمْ أَشَاعِرَةٌ إِلاَّ
مَنْ لَـحِقَ مِنْهُمْ بِتَجْسِـيْمٍ أَوْ اعْتِزَالٍ مِـمَّنْ لاَ يَعْبَأُ اللهُ
بِهِ، وَالْـحَنَفِـيَّةُ أَكْثَرُهُمْ أَشَاعِرَةٌ لاَ يَـخْرُجُ مِنْهُمْ إِلاَّ
مَنْ لَـحِقَ مِنْهُمْ بِالْمُعْتَزِلَةِ، وَالْـحَنَابِلَةُ أَكْثَرُ فُضَلاَءِ
مُتَقَدِّمِيْهِمْ أَشَاعِرَةٌ لَـمْ يَـخْرُجْ مِنْهُمْ عَنْ عَقِيْدَةِ
الأَشْعَرِيِّ إِلاَّ مَنْ لَـحِقَ بِأَهْلِ التَّجْسِيْمِ وَهُمْ فِـي هذِهِ
الفِرْقَةِ مِنَ الْـحَنَابِلَةِ أَكْثَرُ مِنْ غَيْرِهِمْ".
Komentar yang sama disampaikan oleh
at-Taj as-Subki dalam risalahnya yang berjudul Mu’id an-Ni’am Wa Mubid
an-Niqam, hal. 63-64, lihat jugaAbu
Hamid ibn Marzuq, Bara-ah al Asy’ariyyin Min ‘Aqa-id al Mukhalifin (1/62), al Kawtsari dalam
tulisannya di bagian pendahuluan Tabyin Kadzib al Muftari.
[26]Ibnu Jama’ah, I-dlah ad-Dalil, hal. 108, Ibnu
Hajar al Haytami, al Fatawa al Haditsiyyah, hal.144-145. Lihat juga Abu
Hamid ibn Marzuq, Bara-ah al Asy’ariyyin Min ‘Aqa-id al Mukhalifin
(1/10-12).
[27] Seperti Kitab as-Sunnah
yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad ibn Hanbal, kadang kepada puteranya;
Abdullah yang dipenuhi dengan tasybih dan tajsim seperti ditegaskan oleh
al Kawtsari, Syekh Muhammad al ‘Arabi at-Tabban dan lainnya. Lihat al Kawtsari,
Maqalat al Kawtsari, hal. 355-363, Takmilah ar-Radd ‘ala Nuniyyah Ibn al Qayyim, hal. 125, 146, Abu Hamid ibn
Marzuq, Bara-ah al Asy’ariyyin Min ‘Aqa-id al Mukhalifin (1/8-10).
[28]Abdullah al Harari al ‘Abdari, asy-Syarh
al Qawim, hal. 217.
[29]Diriwayatkan
dengan sanadnya oleh al Hafizh Abu al Qasim ibnu ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib
al Muftari, hal. 164.
[30] Abdullah al Harari al ‘Abdari, asy-Syarh
al Qawim, hal. 284.
[31]Al Kawtsari, Kalimah ‘an kitab
Isyarat al Maram min ‘Ibarat al Imam, bagian pendahuluan Isyarat al Maram,
hal. 7.
[32]Al Ibanah bukan karya terakhir al
Asy’ari, barang siapa menduga bahwa al Ibanah adalah karya terakhir al
Asy’ari maka ini adalah dugaan yang batil, demikian dijelaskan oleh para ulama
seperti al Kawtsari, al Muhaddits al Harari al ‘Abdari, Hammudah Ghurabah dalam
pengantar kitab al Asy’ari; al-Luma’ fi ar-Radd ‘ala Ahl az-Zaygh wa al
Bida’ dan lain-lain. Lihat al Kawtsari, Takmilah ar-Radd ‘ala Nuniyyah Ibn al Qayyim, hal. 123, Hammudah Ghurabah,
Pendahuluan al-Luma’ fi ar-Radd ‘ala Ahl
az-Zaygh wa al Bida’
karya al Imam al Asy’ari, hal. 3-8, al Asy’ari –Abu al Hasan-, hal.
132-136.
[33] Kitab Maqalat al
Islamiyyin yang beredar sekarang menurut al Muhaddits al Harari tidak sahih
penisbatannya kepada al Asy’ari karena isinya tidak mengkafirkan semua
aliran-aliran yang menisbatkan diri kepada Islam baik itu aliran Musyabbihah,
Murji-ah, Jabriyyah, Mu’tazilah dan lainnya. Ini jelas menyalahi penegasan al
Asy’ari yang mengkafirkan golongan Musyabbihah dalam kitabnya an-Nawadir
seperti dikutip oleh Abu Bakr al Baqillani, cucu murid al Asy’ari. Lihat al
Harari al ‘Abdari, Bughyah ath-Thalib Li Ma’rifah al ‘Ilm ad-Dini al Wajib,
(1/366), asy-Syarh al Qawim, hal. 301-302, al Bayadli, Isyarat al
Maram Min ‘Ibarat al Imam, hal. 200 yang mengutip dari Syarh al Irsyad
karya Abu al Qasim al Anshari.
[34]Al Kawtsari, Kalimah ‘an Kitab
Isyarat al Maram min ‘Ibarat al Imam, bagian pendahuluan Isyarat al Maram,
hal. 7, Abdullah
al Harari al ‘Abdari, asy-Syarh al Qawim, hal. 303.
[35]Dua murid utama al Imam al
Asy’ari; Abu al Hasan al Bahili dan Abu Abdillah Muhammad ibn Mujahid ath-Tha-i
telah menghasilkan murid-murid seperti Ibnu furak, al
Baqillani, Abu Ishaq Ibrahim ibn Muhammad al Asfarayini, Abu Manshur Abdul
Qahir al Baghdadi dan lainnya. Al Bayhaqi belajar kepada Ibnu Furak, Abu Ishaq
Ibrahim ibn Muhammad al Asfarayini, Abu Manshur Abdul Qahir al Baghdadi. Abu al
Qasim Abdul Jabbar ibn Ali al Isfarayini belajar kepada Abu Ishaq al
Isfarayini, Imam al Haramayn berguru kepada
Abu al Qasim al Isfarayini dan al Ghazali berguru kepada Imam al
Haramayn. Abu al Muzhaffar al Isfarayini berguru kepada Abu Manshur Abdul Qahir
al Baghdadi. Lihat pengantar al
Inshaf karya al Baqillani oleh al Kawtsari dalam Muqaddimat al Kawtsari,
hal. 247.
[36]Al Kawtsari, Takmilah ar-Radd ‘ala Nuniyyah Ibn al
Qayyim, hal. 155, 196.
[37]Seperti Ibnu Hazm dalam bukunya al
Fishal fi al Milal Wa an-Nihal yang sering melecehkan Ahlussunnah,
menisbatkan pendapat-pendapat yang batil kepada mereka tanpa diteliti terlebih
dulu kebenaran penisbatannya kepada para ulama Ahlussunnah tersebut lalu
mengecam mereka dengan keras karena pendapat-pendapat yang tidak pernah mereka
katakan. Dalam buku tersebut Ibnu Hazm merendahkan al Imam al Asy’ari, bahkan
di beberapa bagian menganggapnya ahli bid’ah bahkan hampir mengkafirkannya. Di
antara penyimpangan Ibnu Hazm pendapatnya bahwa Allah ja-iz bagi-Nya
memiliki anak. Ini semua dikarenakan Ibnu Hazm tidak menguasai ilmu tauhid, ia
berbicara dalam ilmu ini dengan pemahamannya sendiri sehingga seringkali salah
seperti ditegaskan oleh Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani dalam Latha-if al
Minan Wa al Akhlaq. Lihat Abu
Hamid ibn Marzuq, Bara-ah al Asy’ariyyin Min ‘Aqa-id al Mukhalifin
(1/63-64), Abdullah
al Harari al ‘Abdari, asy-Syarh al Qawim, hal. 155-156, at-Ta’awun
‘ala an-Nahy ‘an al Munkar, hal. 13-14.
[38]Abu Hamid ibn Marzuq, Bara-ah al Asy’ariyyin (1/63).
[39]Abdullah al Harari al ‘Abdari, asy-Syarh
al Qawim, hal. 179-180.
[40]Abu Hamid ibn Marzuq, Bara-ah al Asy’ariyyin (1/64).
[41]Al Kawtsari, Takmilah ar-Radd ‘ala Nuniyyah Ibn al
Qayyim, hal. 54, 147-148, Wahbi Sulaiman Ghawiji, Muqaddimah fi ‘Ilm
at-Tauhid dalam pendahuluan Idlah ad-Dalil karya Badruddin Ibnu
Jama’ah, hal. 30-32.
[42] Diriwayatkan oleh Yaqut al Hamawi dalam Mu’jam
al Buldan (18/57), Abu Hayyan dalam al Bahr al Muhith (6/72-73) dan
disebutkan oleh al Hafizh as-Suyuthi dalam Tahdzir al Khawashsh min Aha-dits
al Qashshash.
[43]Abu Hamid ibn Marzuq, Bara-ah al
Asy’ariyyin (1/64).
[44]Al Harari al ‘Abdari, al
Maqalaat as-Sunniyyah, hal. 167.
[45] Al Bayhaqi, al Asma’ Wa
ash-Shifat, hal. 442.
[46] Abu Manshur al Baghdadi, al
Farq bayna al Firaq, hal. 333.
[47] Wahbi Sulayman Ghawiji, Pendahuluan Idlah
ad-Dalil, hal. 76-78.
[48]Al Bayhaqi, al Asma’ Wa
ash-Shifat, hal. 330-332.
[49] Al Hafizh Ibnu al Jawzi, Daf’u Syubah
at-Tasybih, hal. 35.
[50]
Al Kawtsari, Takmilah ar-Radd ‘ala Nuniyyah Ibn al Qayyim, hal.
111-112.
[51] Ibnu al Qayyim, Bada-i’ al Fawa-id
(4/39-40).
[52] Al Harari al ‘Abdari, al
Maqalat as-Sunniyyah, hal. 52, Wahbi Sulaiman Ghawiji, Pendahuluan Idlah
ad-Dalil fi Qath’i Hujaj Ahl at-Ta’thil, hal. 30.
[53]Abu Hamid ibn Marzuq, Bara-ah al Asy’ariyyin (1/64).
[54]Al Kawtsari, Takmilah ar-Radd
‘ala Nuniyyah Ibn al Qayyim, hal. 117-118.
[55] Al Harari al ‘Abdari, at-Tahdzir
asy-Syar’i al Wajib, hal. 27-32. Al Muhaddits al Harari al ‘Abdari
menegaskan bahwa telah dinisbatkan banyak sekali perkataan-perkataan yang tidak
sahih sanadnya kepada Syekh Abdul Qadir al Jilani sebagaimana ditegaskan oleh al
Hafizh Ibnu Rajab al Hanbali, adz-Dzahabi, al Hafizh Ibnu Hajar, al Badr al
‘Ayni dan lainnya dalam buku-buku seperti Bahjah al Asrar Wa Ma’din al Anwar
karya Ali asy-Syathnufi, al Fuyudlat ar-Rabbaniyyah fi Ma-atsir
ath-Thariqah al Qadiriyyah, Raudl ar-Rayahin dan lainnya.
[56]Abu Hamid ibn Marzuq, Bara-ah al
Asy’ariyyin (1/64), al Kawtsari, Takmilah ar-Radd ‘ala Nuniyyah Ibn al
Qayyim, hal. 113-114.
[57]
Ibnu Hajar al Haytami, al Fatawa al Haditsiyyah, hal.144-145.
[58]Syeikh
Abdul Wahhab asy-Sya’rani dalam Latha-if al Minan Wa al Akhlaq, hal.
394-395, al Yawaqit Wa al Jawahir fi
Bayan ‘Aqa-id al Aka-bir, hal. 7.
[59] Al Harari al ‘Abdari, at-Tahdzir
asy-Syar’i al Wajib, hal. 20-23.
[60]Abu Hamid ibn Marzuq, Bara-ah al
Asy’ariyyin (1/64). Karena tidak mengetahui bahwa ini adalah sisipan palsu
(ad-Dass), maka Wahbah az-Zuhayli yang telah terpengaruh oleh fitnah
Ibnu Taimiyah–dengan berdalih mengikuti al Alusi- berani menyalahi para ulama
madzhab empat dan lainnya dengan mengharamkan Tawassul dengan nabi atau wali
yang sudah meninggal atau masih hidup tapi ghaib dalam bukunya “at-Tafsir
al Munir”, (6/174-176).
[61] Penulis buku yang berjudul "ad-Din al
Khalish" yang di dalamnya ia menyatakan bahwa Sayyidah Hawwa’ jatuh
dalam syirik (1/16) dan bertaklid kepada madzhab-madzhab yang ada adalah syirik (تقليد
المذاهب من الشرك)(1/240).
[62]Al Kawtsari, Takmilah ar-Radd
‘ala Nuniyyah Ibn al Qayyim, hal. 165.
[63]Ali
al Qari, Syarh al Fiqh al Akbar, hal. 70, al Bayadli, Isyarat al
Maram, hal. 195-201.
[64] Abu Hanifah, Washiyyah
al Imam Abu Hanifah an-Nu’man, Cet. Dar Ibn Hazm, tahqiq wa ta’liq Abu
Mu’adz Muhammad ibn Abdul Hayy ‘Uwaynah, hal. 38-39.
[65] Untuk penjelasan masalah
ini silahkan membaca Syekh Abdullah al Ghumari, Itqan ash-Shan’ah fi Tahqiq
Ma’na al Bid’ah, hal. 78-94, al Muhaddits al Harari, al Maqalat
as-Sunniyyah, hal. 437-439.
[66]Al Hafizh Ibnu Rajab, Fath
al Bari (KSA-ad-Dammam: Dar Ibn al Jawzi, Cet. I, 1420), tahqiq Abu Mu’adz
Thariq ibn ‘Iwadl ibn Muhammad, (2/344).
[67] Al Hafizh Ibnu Rajab, Fath
al Bari (KSA: Maktabah al Ghuraba’, Cet. I, 1426-1996), tahqiq Maktab
at-Tahqiq fi Dar al Haramayn, (3/246).
[68] Abu Hamid ibn Marzuq, Bara-ah al
Asy’ariyyin (1/65). Penyimpangan-penyimpangan Muhammad Rasyid Ridla
dibantah oleh para ulama di masanya seperti Syeikh Yusuf ad-Dajwi; ulama al
Azhar asy-Syarif, Syeikh Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani dalam Qashidah
Ra-iyyah–nya yang berjudul ar-Ra-iyyah ash-Shughra fi Dzamm al Bid’ah Wa
Madh as-Sunnah al Gharra dan para ulama lainnya.
[69] Perkataan tersebut juga
terbuang dalam Tafsir an-Nahr al Madd yang dicetak bersama al Bahr al
Muhith, Cetakan Dar al Fikr (Cet. II, 1403-1983) dan Cetakan Dar Ihya’
at-Turats al ‘Arabi (Beirut: Cet. II, 1411-1990).
[70]Al
Kawtsari, Takmilah ar-Radd ‘ala Nuniyyah Ibn al Qayyim, hal. 96-97.
[71] Lihat Tafsir an-Nahr al
Madd, Cetakan Dar al Janan-Muassasah al Kutub ats-Tsaqafiyyah, taqdim wa
dlabth Buran adl-Dlannawi wa Hidyan adl-Dlannawi, (1/254), juga Cetakan Dar al
Jil, Beirut, tahqiq Dr. Umar al As’ad (1/372).
[72] As-Subki, as-Sayf ash-Shaqil fi
ar-Radd ‘ala Ibn Zafil
, hal. 96, al Hafizh Ibnu Hajar dalam ad-Durar al Kaminah (1/153), al Hafizh
Murtadla az-Zabidi, Ithaf as-Sadah al Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulum ad-Din, (2/106).
[73]Bandingkan antara Ash-Shawi, Hasyiyah ash-Shawi ‘ala Tafsir al Jalalayn, (Beirut: Dar
al Fikr, 1424-2004), Tafsir Surat
Fathir, (3/379-380)
dan Cetakan Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah, Beirut: Lebanon, (5/77) dengan Cetakan
lama Dar Ihya’ at-Turats al ‘Arabi, (3/307-308) dan cetakan baru.
[74] Muhammad ibn Shalih al
‘Utsaymin, Syarh Riyadl ash-Shalihin Min Kalam Sayyid al Mursalin,
(Beirut: Dar Ibn ‘Ashshashah, Cet. I, 1427-2006), (3/139-140).
[75]
An-Nawawi, Riyadl ash-Shalihin, hal. 345.
[76] Seperti bisa dilihat dalam
semua cetakan-cetakan Riyadl ash-Shalihin dan Syarh-nya; Dalil
al Falihin.
[77] An-Nawawi di sekian banyak
kitabnya seperti Syarh Shahih Muslim (6/165-166, 7/108), Tahdzib al
Asma’ Wa al-Lughat(hal. 532-533) dan lainnya jelas-jelas membagi bid’ah
menjadi dua; Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi-ahdan lebih
terperinci membaginya menjadi lima. An-Nawawi juga menegaskan dalam sekian banyak
kitab-kitabnya seperti al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab (2/118) bahwa
menggabungkan niat antara hati dan lidah lebih ditekankan dan lebih afdlal
sebagaimana disepakati oleh para Fuqaha’ Syafi’iyyah. Namun secara
terang-terangan –dengan mendompleng nama besar an-Nawawi-, Ibnu ‘Utsaymin
menyatakan dalam Syarh Riyadl ash-Shalihin tersebut bahwa semua bid’ah
sesat dan melafalkan niat di awal
wudlu’, shalat, puasa dan seterusnya adalah bid’ah dan bukan bagian dari agama
Allah.
[78] Ibnu Taimiyah, al Kalim
ath-Thayyib, tahqiq al Albani, dicetak oleh al Maktab al Islami, hal. 120.



0 komentar:
Posting Komentar